SEBELUM lonceng sekolah berdentang tiga kali pada pukul 12.30, guruku sering menyuguhkan kisah keteladanan dan menginspirasi siswa. Adalah Hamdi Som, guru Sekolah Dasar (SD) Pertamina II Plaju, Palembang. Terkadang siswa juga diminta bercerita tentang apa saja, sembari menunggu bel pulang sekolah.
Pak Hamdi dikenal sebagai guru paling ganteng di sekolahku. Dia berkumis lebat, perawakan tubuh tinggi dengan rambut disisir belah pinggir. Hamdi, sang Umar Bakri beranjak dari tempat duduk, pas di depanku. Dia menceritakan tentang lelaki tua bersama anaknya yang masih kecil membeli seekor keledai.
Mungkin pembaca pernah mendengar cerita ini. Tapi bagi siswa SD saat itu, suatu hal yang baru. Lagian Pak Hamdi dengan senang selalu berkisah tentang hikayat kehidupan makhluk di muka bumi ini.
***
Hewan itu mirip kuda, kata Pak Hamdi. Tapi bentuk badannya lebih kecil. “Saat pulang dari pasar, seorang tetangga bilang ke sang ayah, kenapa keledainya tidak dinaiki, kata tetangga tadi,” begitu Pak Hamdi mengawali ceritanya.
Temanku dengan sangat serius mengikuti cerita sang guru. Mendengar cerita tetangga tadi, kata Pak Hamdi, sang ayah menaiki hewan bertubuh kecil, sedangkan anaknya berjalan kaki sambil menuntun tali keledai menyusuri jalan menuju rumahnya.
Berselang puluhan meter, pemilik keledai ini bertemu dengan tetangga lainnya lagi. “Tega amat ayahnya sebagai orang tua naik keledai, sedangkan anak yang kecil itu dibiarkan berjalan penuh kucuran keringat,” lanjut Pak Hamdi sembari melihat jam tangan yang melekat di tangan kirinya, sebentar lagi lonceng berdentang, tanda pulang sekolah.
Pak Hamdi lalu meneruskan cerita. Lalu ayah yang sudah tua renta turun dari keledai meminta anaknya menaiki keledai itu. Sang bapak berjalan sambil memegang tali menuntun hewan yang menggemaskan itu, karena memiliki jambul di atas kepalanya.
Tidak jauh dari kampung, tetangga lain lagi mengatakan, “Anak itu tidak santun bener. Masak dia enak-enak naik keledai, bapaknya berjalan kaki terengah-engah karena turun naik perbukitan,” kata tetangga setengah baya itu.
Akibat ocehan tetangga itu, ayah berucap kepada anaknya, “Nak, turunlah. Dengan berat hati, kita tuntun saja keledai ini.” Setelah menuruni lembah di kampung lainnya, ada ada orang berkata lagi. “Kenapa Anda berdua tidak menaiki keledai. Untuk apa dibeli.”
Sang ayah dan anak akhirnya menaiki keledai. Sesampai di kampungnya, mereka mendengar lagi ocehan istri. “Kasihan amat Pak, keledai kecil itu harus dinaiki dua orang, anak dan bapaknya,” kata ibu.
Mendengar kalimat protes sang istri, “Apa yang kita lakukan sejak dari pasar tadi hingga depan rumah ini. Kita selalu dan tetap disalahkan mereka,” kata ayahnya. Begitu cerita Pak Hamdi yang sebentar lagi mengakhiri cerita menginspirasi itu.
Cerita itu belum berakhir, sementara lonceng pulang sekolah berdentang. Tapi teman-teman begitu penasaran ingin mendengar pesan yang tersirat dari cerita tadi.
Sang guru lalu menguraikan hikmah dari cerita itu; belajar ikhlas, sabar, teguh dalam pendirian, dan berserah diri saat pekerjaan kita tidak berkenan di hati. Manusia maunya enak sendiri, menghujat, mengumpat, memfitnah. Begitu Pak Hamdi mengakhiri ceritanya, kami pun satu per satu keluar kelas, pulang, karena bus sudah lama menunggu untuk menjemput kami.
***
Dari cerita di atas, adalah kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menaikkan dan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Saat aku menulis status di media sosial tentang BBM, banyak temanku kecewa dengan kebijakan Jokowi itu. Hujatan, sanjungan, sampai pada memberikan solusi.
Jika Jokowi seperti kedua bapak dan anak yang membeli keledai tadi, mungkin negeri terombang ambing dengan tekanan, demo, caci maki dari pengamat dan praktisi. Apa kata Jokowi saat mengumumkan penaikan itu, “Saya bekerja bukan untuk mencari popularitas, saya bekerja untuk negara dan rakyat. Kalau popularitas anjlok, silakan,” kata mantan Wali Kota Solo itu, saat menjadi pembicara utama dalam acara Indonesia Outlook 2015 yang digelar Media Group (Media Indonesia, Metro TV, dan Lampung Post) di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (15/1).
Memang belum dua bulan menduduki kursi presiden, Jokowi mengumumkan penaikan harga BBM subsidi Rp2.000 pada 17 November 2014, harga barang dan jasa langsung melejit seperti jet. Sopir dan pengusaha angkutan ikut menaikkan tarif angkutan.
Pada 1 Januari 2015, pemerintah menurunkan harga premium dan solar. Dengan harga tersebut, pemerintah tidak lagi menyubsidi premium, hanya menyubsidi solar dan minyak tanah Rp1.000 per liter. Pada pekan ini, (Jumat, 16/1), Presiden kembali mengumumkan penurunan harga BBM, tapi harga tetap tidak turun. Presiden pun menurunkan menteri untuk mengevaluasi distributor bahan pokok dan pengusaha angkutan untuk kembali menurunkan harga.
“Hati-hati yang hobinya nyetok (barang) dan main harga. Akan saya kejar. Karena kami ingin inflasi kami tekan di bawah 5 (%),”kata Presiden. Apa pun kebijakan Jokowi yang menurunkan harga BBM tidak dipatuhi, distributor dan pengusaha angkutan akan menanggung akibatnya.
Tapi mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak akan mendiamkan ulah mereka yang tidak prorakyat. Jokowi membuktikan janjinya, seperti menenggelamkan kapal pencuri ikan, lalu tidak akan memberikan grasi—ampunan—bagi narapidana narkoba.
Bagaimana Jokowi mengganti Kepala Staf TNI AL di sela-sela kebijakan Menteri Susi Pudjiastuti mengebom sejumlah kapal illegal fishing. Pekan ini, Sutarman dicopot dari jabatan Kapolri.
Pergantian jabatan adalah hal yang biasa. Tidak ada yang abadi di atas dunia ini. Keabadian itu adalah perubahan sikap, tingkah laku, dan mental. Masa lalu tidak akan terulang lagi dan mengubah nasib. Tapi masa depan dengan perubahan akan abadi. ***



