• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Si Doel Inspiratif

Agustus 19, 2018
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

SAKING hitnya sinetron Si Doel Anak Sekolahan di layar kaca pada era 1992—2003tidak tanggung-tanggung ada Warung Si Doel di Tanah Suci, Mekah. Warung yang menyediakan makan khas Indonesia itu untuk jemaah haji. Mulai dari bakso, soto, hingga sop buntut. Tidak ada pilihan lagi, menunya sangat pas untuk lidah orang Indonesia.

Memang Si Doel mampu menyedot perhatian jemaah Indonesia. Bahkan, film layar lebar Si Doel The Movie yang mulai tayang 2 Agustus, mampu membuat baper dan menangis penonton. Film mengisahkan drama cinta segitiga Sarah, Zaenab, dan Doel–mampu membawa haru penonton.

Tidak terasa, air mata pun mengalir ketika Doel bertemu anak kandungnya—buah pernikahan dengan Sarah. Bahkan, 14 tahun dia masih dalam ikatan perkawinan sah. Sarah tidak kuat menahan bahwa anaknya ingin ketemu ayahnya. Lebih tragis lagi, api cemburu membakar Sarah. Dia minta diceraikan karena Doel diketahui menikahi Zaenab secara siri.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Dalam film berdurasi 85 menit itu, kerinduan penonton terobati. Doel dan Mandra berkisah berangkat ke Belanda yang sudah “diatur” Hanssaudara Sarah. Di Negeri Kincir Angin, Doel bertemu bininya. Berkeluh kesah soal anak kandungn. Padahal sebelum berangkat, Doel diamanahkan Mak Nyak (Ibu Doel) untuk tidak mencari Sarah lagi.

Mak Nyak, yang tergeletak hampir delapan tahun akibat buta dan lumpuh, itu mengisyaratkan agar anaknya tetap mencintai Zaenab. Sedangkan Sarah adalah sosok wanita manja yang dicintainya, karena memberikan seorang anak yang ganteng. Tumbuh dan cerdas. Di sisi lain, Doel juga tidak ingin menyakiti hati Zaenab yang bersusah payah menjaga Mak Nyak sakit.

Pertentangan batin antara cinta dan nasihat sang ibu untuk anak. Emosi penonton diolah, dibius menikmati indahnya anak manusia yang dicintai dua wanita sekaligus. Selama 11 hari tayangan di bioskop di negeri ini, film Si Doel The Movie mampu meraup Rp50,61 miliar dengan tiket terjual 1,368 juta lembar. Tayangan iklan di media sosial ikut menyedot penonton dari kalangan anak muda.

Data katalog film Indonesia mengungkapkan, Si Doel The Movie berada di urutan kelima film nasional setelah Dilan 1990, lalu Danur 2: Maddah, #Teman Tapi Menikah, dan Jailangkung 2. Bahkan, film yang diangkat dari sinetron Si Doel Anak Sekolahan tayang perdana di bioskop bersejarah di Amsterdam, Belanda, bernama Pathe Tuschinski. Film tersebut akan ada sambungannya. Seperti apa akhir dari cinta Sarah, Zaenab, dan Doel.

Jika penonton tidak mengikuti sinteron Si Doel Anak Gedongan (2005) lalu Si Doel Anak Pinggiran (2011), akan terputuslah alur cerita dari kisah cinta Sarah dengan Doel. Seperti apa Zaenab bercerai dengan pengusaha yang menikahinya. Pastinya, selama 26 tahun kegalauan Doel, terkuak dalam film terbaru itu. Mengapa Sarah dalam keadaan hamil muda pergi meninggalkan Doel? Zaenab yang sudah hamil duluan keguguran? Mengapa dia minta cerai? Hingga bagaimana nasib Ahong?

***

Banyak pelajaran ditorehkan dalam film Si Doel The Movie. Ada ketegasan lelaki. Cinta dua anak manusia. Tanggung jawab seorang ayah kepada anak dan istri yang berpisah selama 14 tahun. Memperkenalkan destinasi wisatamuseum Belanda, banyak menyimpan sejarah negeri ini. Dalam banyak cerita, Rano Karno menggarap sinetron Si Doel itu terinspirasi dari film Si Doel Anak Betawi yang tayang pada 1972.

Ketika itu, Rano Karno yang masih berusia 12 tahun ikut membintangi film Si Doel Anak Betawi. Mantan Gubernur Banten berperan sebagai Doel dikisahkan hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat sekolah rakyat (SR) atau sekolah dasar. Doel protes mengapa sampai SR. Akhirnya pada 1993, mulailah dia menulis naskah sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Rano langsung berperan sebagai Kasdoellah alias Doel.

Ternyata tidak hanya berhenti di serial Si Doel Anak Sekolahan, Rano pun menggarap kisah Si Doel Anak Gedongan, lalu Anak Pinggiran. Kini, Si Doel The Movie yang sudah mengentak hati penonton di bioskop di Tanah Air. Filmnya menginspirasi. Kami bernostalgia, kata Antoyang sengaja membawa anak dan istrinya menonton film tersebut.

Drama kehidupan rakyat Betawi yang selalu terpinggirkan karena arogansi kekuasaan dan pembangunan. Tokoh Sabeniayah Doel yang diperankan Benyamin Syueb banyak mengeritik kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Walaupun anaknya sudah lulus kuliah meraih titel tukang insinyur, masih juga susah mendapatkan pekerjaan. Kalaupun kerja, harus jauh dari orang tuamerantau ke Kalimantan, dalam kisah tersebut.

Babe Si Doel adalah sosok penyayang, polos, dan tegas. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau masih juga menganggur, kata Babe Sabeni menyesalkan bahwa pendidikan tinggi selalu identik dengan mudahnya mencari kerja. Bagi Si Doel, cita-cita sang bapak sebuah doa untuk mengubah nasibnya. Dalam banyak film dan sinetron, Si Doel juga adalah sosok pemuda yang agamais dan idealis dalam kehidupan.

Akankah kisah Si Doel itu berlanjut? Yang jelas, film ini ikut melestarikan adat dan budaya Betawi mulai terpinggirkan. Masa depan Dul, Abdullahanak biologis dari Sarah, dan Doel adalah masa depan masyarakat Betawi. Kalau Sabeni adalah tokoh kolotan. Si Doel mengubah nasibnya dengan sekolah menjadi insinyur. Dan cucunya, Dul adalah generasi millennialbenteng terakhir menjaga Betawi dari impitan kemajuan teknologi. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

44 Tahun Bersolek

Next Post

Polisi Hanggum

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Polisi Hanggum

Kurikulum Pendidikan Dan Pelatihan Jurnalistik Konvergensi Media Berbasis Karakter

Kurikulum Pendidikan Dan Pelatihan Jurnalistik Konvergensi Media Berbasis Karakter

Pertaruhan Bisnis Media

Pertaruhan Bisnis Media

Lilin Kecil

Politik Hanifan

Pemimpin Redaksi Lampung Post Raih Doktor di UIN

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist