MULIA sekali keinginan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang ingin menjadikan warga bhayangkara yang bertugas di jalan raya di negeri ini sebagai “manusia baja”. Polisi membantu rakyat, bukan mengintip-intip kesalahan warga untuk ditilang dengan berbagai nego!
Praktik tidak terpuji itu segera berakhir dengan di-launching-nya tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE). Tilang digital ini diberlakukan secara nasional, Selasa (23/3). Lampung masuk tahap pertama dengan dipasangnya lima titik kamera tilang di Kota Bandar Lampung. Dan janjinya akan dipasang juga di ibu kota kabupaten.
Program ini patut diapresiasi, dan untuk Lampung perlu dimasifkan lagi sehingga masyarakat paham dan mengerti manfaat ETLE. Yang jelas, penghapusan tilang di jalan ini merupakan ikhtiar guna mencegah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Jika kemarin tilang di jalan bisa dinego atau korek api berisi uang receh. Kini, sudah tidak ada lagi.
Di era digital, penindakan terhadap pelanggar lalu lintas dikerjakan alat supercanggih melalui ETLE. Tidak ada lagi pertemuan antara petugas dan pelanggar. Praktik KKN bisa dibasmi! Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah meninggalkan praktik tilang di jalan itu.
Dan pengendara akan lebih berhati-hati lagi karena terekam oleh kamera baik di jalan ataupun dalam mobil sendiri. Pelanggar tidak bisa berargumentasi atau mengelak lagi ketika ditilang secara elektronik. Surat tilang disertai bukti-bukti akurat–rekaman kamera langsung dikirimkan ke alamat pelanggar. Luar biasa! Polisi bertugas berdasarkan data.
Polisi Indonesia mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Sudah saatnya negara hadir memberikan rasa nyaman dan aman, karena petugas bekerja profesional melayani rakyat. Ingat, ETLE sangat efektif mengubah perilaku petugas dan pengendara agar tertib berlalu lintas. Rakyat pun akan sadar menuju peradaban baru ini.
Walau negara tetangga sudah menerapkannya, Indonesia juga di Lampung ini belum ada kata terlambat. Sistem ini lebih transparan, menghilangkan pungli di jalan, efisien. Sistem ini juga bisa mengetahui siapa pemilik mobil atau kendaraan motor. Dan tidak ada lagi polisi lalu lintas di lapangan.
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat ibu kota negara. Video parodi yang diunggah di media sosial oleh Polda menunjukkan adanya adegan seorang pria yang berpamitan kepada istrinya. Lalu si suami pergi mengendarai mobil. Dalam perjalanan, suami memberhentikan mobil–lalu naiklah seorang wanita cantik. Lalu suami bermesraan di pinggir jalan sebelum ia ditegur polisi.
Pria itu pun beralasan sedang memasang sabuk pengaman di tubuh teman wanitanya. Setelah itu kendaraan pun melaju. Di tengah perjalanan, pria tadi melepas sabuk pengaman dengan alasan tidak ada polisi yang mengawasi. Ternyata tanpa disadarinya, sebuah kamera closed circuit television (CCTV) lagi menyorot dan merekamnya.
Kamera pun memotret pria yang lagi berkendara tanpa mengenakan sabuk pengaman dengan perempuan di sebelahnya. Lengkap sudah barang bukti yang akan diserahkan ke pelanggar! Sesuai dengan prosedur ETLE, Polda berkirim surat yang berisi bukti pelanggaran ke rumah pelanggar sesuai dengan alamat yang tercatat dalam registrasi kendaraan yang melanggar.
***
Apa hendak dikata. Penerima surat berikut bukti tilang bersama foto yang terekam dalam kamera CCTV tadi adalah istrinya. Hati sang istri melihat foto jadi meradang karena ada bukti perselingkuhan suaminya yang sangat nyata. Video parodi itu mengungkap pengalaman yang terjadi bagi pengendara.
Polisi lalu lintas yang berjaga di Posko ETLE Subdit Gakkum, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, mengakui pernah beberapa kali menemui perempuan yang mengonfirmasi surat yang diterima. “Bukan pelanggaran lalu lintasnya yang ditanya, tapi dugaan selingkuh suaminya,” kata polisi tadi sambil tertawa. Maka itu berhati-hatilah, kawan!
Masih menurut polisi tadi, pelanggaran yang merekam perselingkuhan itu bukan hanya di mobil, juga di sepeda motor. “Ada yang mempertanyakan suaminya membonceng wanita lain. Mereka tertangkap kamera CCTV karena tidak pakai helm atau masuk jalur busway,” ujar dia. Ini fakta yang terjadi di ibu kota negara. ETLE menyadarkan pengendara agar taat berlalu lintas.
Sangat jelas dan terang benderang, tanpa tedeng aling-aling, program ETLE upaya mengurangi komunikasi langsung antara pelanggar lalu lintas dan polisi di lapangan. Ini sudah menjadi rahasia umum, acap terjadi bahwa komunikasi itu diakhiri dengan kesepakatan damai dengan imbalan mahar beberapa lembar uang puluhan ribu rupiah.
Data yang diungkap Polda Metro Jaya bahwa pelanggaran yang ditangkap kamera ETLE pada Januari dan Februari 2019 dengan Januari—Februari 2020 terjadi penurunan drastis 44% bagi pelanggaran roda empat. Sedangkan roda dua juga terjadi penurunan 26%. Data pelanggaran ini menunjukkan adanya peningkatan disiplin berlalu lintas di titik-titik kawasan ETLE. Polisi harus diacungi dua jempol tangan kanan dan kiri.
Kehadiran tilang elektronik untuk meningkatkan keamanan, keselamatan, juga kenyamanan masyarakat di jalan raya. Rakyat akan lebih waspada lagi karena terpantau kamera CCTV, dan polisi bekerja profesional dalam menjalankan tugasnya. Ini cita-cita mulia Kapolri Listyo Sigit menyadarkan rakyat. Dan polisi lalu lintas tidak lagi ngurusi tilang apalagi dengan mahar!
“Impiannya agar polisi hanya melaksanakan tugas yang sifatnya mengurai kemacetan, menolong orang yang kecelakaan. Lalu kemudian melakukan kegiatan yang butuh kehadiran polisi,” kata Listyo yang pernah menjadi ajudan Presiden Jokowi itu.
Listyo yang dekat dengan ulama ini memimpikan juga agar polisi lalu lintas di negeri ini jadi superhero atau pahlawan fiksi terkenal dengan sebutan “manusia baja”. “Jadilah polisi lalu lintas dalam komik Marvel. Seperti Superman,” kata dia. Cerita tentang Captain America, Iron Man, Ant-Man. Bahkan kerja tim hero Avengers, Guardians of the Galaxy, dan X-Men.
Ide Listyo itu menjadikan polisi lalu lintas seperti cerita dalam komik-komik Marvel sangatlah beralasan. Karena peran superhero dalam komik itu membuat decak kagum yang diminati kaum milenial bahkan orang tua.
Komik-komiknya diangkat ke layar lebar karena tokoh-tokoh Marvel yang diperankan menginspirasi, membumi, dan manusiawi di hati pembaca, juga penonton. Kapan lagi, berbuatlah yang terbaik untuk negeri ini, polisi! ***


