• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Juara Pilkada

Juni 24, 2018
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

TIDAK ada yang mampu memprediksi kesebelasan mana yang bakal melaju ke final dan berhasil merebut piala dunia sepak bola di Rusia 2018 ini. Pada 2014 lalu, Jerman menjadi pemilik piala dunia usai menaklukkan Argentina. Kali ini, pasukan Negeri Hitler itu harus bertekuk lutut dengan Meksiko. Penampilan Jerman jauh dari harapan dan sangat mengecewakan.

Pesta bola dunia tahun ini diikuti 32 tim negara dari berbagai belahan dunia. Perebutan trofi tertinggi Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) itu juga berbarengan dengan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di negeri ini. Anak-anak bangsa termasuk di Lampung menyambut pesta bola dengan sukacita. Olahraga tempat belajar menjunjung tinggi sportivitas.

Penyelenggara mendatangkan wasit, juri, hakim garis dari berbagai dunia. Pesta bola benar-benar dirayakan dengan kebesaran. Sebelum turun ke lapangan hijau, diperdengarkan lagu kebangsaan masing-masing tim. Saling menghormati. Bersikap jujur, disiplin, tanpa ada rasa dendam, serta mau menerima kekalahan. Didikan sportivitas olahraga itulah yang membedakan antara juara sejati dan juara biasa-biasa saja.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Anak-anak bangsa yang kini terlibat dalam perebutan kursi kepala daerah seperti gubernur, bupati/wali kota—harus belajar banyak dari olahraga. Final pilkada serentak dilakukan pada Rabu pekan depan, 27 Juni 2018. Olahraga menjunjung tinggi sikap sportif. Sikap kejujuran. Dan sportivitas adalah bagian dari kepribadian, bagian dari karakter pemain.

Akankah sikap itu ditunjukkan pemain pilkada yang tersebar di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Sebanyak 171 daerah menggelar perhelatan pesta rakyat memilih pemimpin. Untuk Lampung, ada pemilihan gubernur, pemilihan bupati Tanggamus dan Lampung Utara. Anak bangsa belajar dari sportivitas tim sepak bola. Mereka memiliki sikap kesatria, berani mengikuti peraturan yang ditetapkan dan disepakati bersama sebelum bertanding.

Sepak bola membutuhkan energi dan tenaga lebih, serta fisik yang ekstrakuat. Seperti olahraga angkat besi dan lainnya juga membutuhkan stamina lebih, tidak boleh sakit apalagi cedera tubuh. Pertandingan sepak bola dunia di Rusia selama sebulan ini juga mendapat perhatian serius dari pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur Lampung.

Adalah calon gubernur nomor urut satu. M Ridho Ficardo mengatakan siapa pun yang menang, harus bisa menjadi contoh dalam perkembangan sepak bola Lampung. “Klub-klub di Lampung bisa mengamati dan meniru prestasi tim-tim sepak bola dari berbagai negara itu,” kata Ridho yang juga ketua umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung, awal pekan ini.

Begitu juga calon gubernur Lampung nomor urut tiga, Arinal Djunaidi. Dia mengatakan sepak bola adalah olahraga yang disukai rakyat dunia, bahkan semua orang bisa bermain sepak bola. Tapi, tidak semua orang juga menjadi pemain yang baik,” ujar Arinal. Yang jelas, dunia sepak bola dikuasai Amerika Latin. Arinal pun menjagokan Tim Brasil.

***

Bagaimana dengan calon gubernur Lampung Herman HN? Yang jelas, Wali Kota Bandar Lampung ini senang berolahraga. Bahkan bagian dari sudut Kota Seribu Tapis ini menjadi sarana olahraga murah meriah, yakni jalan sehat. “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat,” kata Herman dalam suatu kesempatan ketika membuka jalan sehat di Bundaran Adipura.

Berbeda dengan calon wakil gubernur Lampung nomor urut 4, Ahmad Jajuli. Dia menjagokan Jerman. “Saya juga menjagokan Mesir karena ada Moehamad Salah pemain favorit saya,” kata dia. Yang jelas, empat pasangan calon pemimpin Lampung untuk lima tahun mendambakan olahraga bagian dari kehidupan masyarakat.

Dalam hitungan hari, rakyat akan memilih pemimpinnya. Semua pasangan calon adalah putra terbaik Lampung berjanji sportif. Rakyat pun sudah berpengalaman dalam beberapa kali pilkada, akan mencoblos calon sesuai dengan hati nurani. Pemilih yang cerdas akan memilih pemimpin yang cerdas pula—mau bekerja keras untuk rakyatnya.

Dalam perjalanan laga Pilkada Lampung sejak Februari lalu hingga pekan ini, pasangan calon melakukan kampanye cerdas—menonjolkan visi-misi yang jitu. Itu terlihat dari tiga kali putaran debat kandidat agar anak-anak bangsa di Lampung ini menjadi paham berpolitik dan pemain yang santun. Proses itu juga mendapat pengawalan ketat dari Polda, KPU, Bawaslu, juga rakyat agar menjaga suasana kondusif serta tidak berkampanye hitam.

Semua pasangan calon meneken kesepakatan dan janji bersama untuk menjaga suasana sejuk, tidak bermain politik uang dan sembako, juga tidak menebar fitnah—kampanye hitam. Baik pimpinan Polda maupun KPU Lampung mengingatkan pasangan calon agar menahan diri, menjaga situasi yang kondusif. Ini bagian sportivitas yang dicontohkan olahragawan kepada anak bangsa yang lagi berlaga di gelanggang politik praktis.

Pesan moral pun disampaikan Irjen Suntana, kapolda Lampung. Sebagai anak bangsa pendatang—yang bertugas di Bumi Ruwa Jurai ini, dia mau berkorban untuk memajukan dan menyejahterakan rakyat Lampung. “Semua calon gubernur dan wakil gubernur Lampung adalah putra-putri terbaik daerah. Mereka tumbuh, besar, dan hidup di Lampung,” kata dia.

Maka itu, kata Suntana, perlulah calon pemimpin Lampung harus memiliki kepedulian dan keberanian menjaga nama baik daerah. Dan tidak saling menjatuhkan. Lampung kaya raya. Kekayaan itu untuk menyejahterakan rakyat. Pascapilkada 27 Juni, pasti ada yang menang. Yang kalah harus memberi selamat kepada pemenang. Yang menang tidak jemawa. Dia pun merangkul yang kalah untuk sama-sama membangun Tanah Lada ini. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Mudik Bermartabat

Next Post

Pesta (Belum) Usai

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Pesta (Belum) Usai

Lilin Kecil

Penjahat Kemanusiaan

Lilin Kecil

Kematian Yusuf

Lilin Kecil

Telur Aduan

Lilin Kecil

Panggung Koruptor

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist