• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Dua Agama Satu Cinta

Desember 27, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

PERINGATAN dua hari besar di penghujung tahun ini sungguh spesial. Kedewasaan dalam toleransi umat beragama di negeri ini lagi diuji. Karena tanggal 24 Desember bertepatan 12 Rabiul Awal 1437 Hijrah adalah kelahiran Nabi Muhammad saw. Sedangkan sehari setelahnya, 25 Desember, umat Kristiani merayakan Natal, suatu peristiwa penting, Yesus Kristus dilahirkan.
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdurrahman Wahid yang juga mantan presiden RI menulis artikel di Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003 bertajuk Harlah, Natal, dan Maulid. Dalam tulisannya, Gus Dur mengatakan kata Natal artinya sama dengan harlah atau hari kelahiran. Itu hanya dipakai Nabi Isa Almasih.

Maksud istilah Natal adalah saat Nabi Isa dilahirkan ke dunia dari rahim seorang ibu bernama Maryam. Maryam tak mempunyai suami, layaknya seorang manusia dilahirkan ke dunia memiliki ayah dan ibu. Bahwa kemudian Isa ditasbihkan sebagai Anak Tuhan oleh umat Kristiani adalah masalah lain lagi. Jadi Natal itu, kata Gus Dur, memiliki arti khusus, yakni kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa.
Sedangkan maulid adalah saat kelahiran Nabi saw. Maulid sendiri dirayakan pertama kali atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Saladin, dunia Barat mengenal namanya memerintahkan peringatan itu dirayakan enam abad setelah Rasulullah wafat.
Titah Saladin agar umat Islam memperingati maulid saat itu untuk mengobarkan semangat jihad pejuang muslim agar menang dalam Perang Salib. Sepertinya hari kelahiran itu harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam hal yang sama. Yang jelas tujuannya berbeda pula. Perbedaan itu pun tak perlu dipersoalkan. Inilah bentuk dan indahnya keberagaman.
Lihat Kota Jerusalem. Penduduk di kota yang berarti damai bagi tiga agama (Islam, Kristen, Yahudi) itu tidak henti-hentinya menumpahkan darah. Mereka berebut tempat suci dari tanah sejengkal. Di situ terdapat Masjidil Aqsa (tempat mikraj Nabi Muhammad saw), Bukit Golgota (tempat Yesus disalib), dan Tembok Ratapan (tempat suci umat Yahudi). Ketiganya berada dalam satu kawasan bernama Jerusalem.
***
Kota peninggalan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman itu menjadi indah ketika penduduknya saling menghormati antarumat beragama. Yahudi tidaklah patut dijadikan teladan. Bagaimana upayanya, Zionis Israel itu selalu menghancurkan Masjidil Aqsa. Karena, menurut Yahudi, di bawah tempat ibadah umat Islam itu ada kuil peninggalan Sulaiman—tempat suci Yahudi. Kedengkian, dendam kesumat tak berkesudahan di Kota Damai tersebut.
Bagaimana dengan Indonesia? Negeriku penuh kedamaian. Dua agama tidak mengajarkan umatnya saling membunuh. Perayaan dua hari besar, Maulid dan Natal yang tak disengaja berdekatan itu, tujuan yang tersirat hanya satu, yakni cinta kedamaian. Nusantara ini tercabik-cabik jika berkumandang sikap intoleransi.
Sering toleransi dan keberagaman di negeri ini tercoreng. Peristiwa berdarah yang masih ingat di benak kita tahun ini adalah pembakaran tempat ibadah di Papua dan Aceh. Ketua Pengurus Besar NU Said Aqil Siradj mengatakan umat Islam dan Nasrani harus mengembangkan sikap toleran. “Tunjukkan toleransi beragama di Indonesia lebih baik ketimbang negara lain,” katanya.
Ucapan Said Aqil itu diwujudkan oleh anggota Banser NU yang menjaga gereja pada malam Natal bersama aparat keamanan. Di Lampung, Banser NU ditemui di sejumlah gereja, kemarin. Begitu pun Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mendorong kehidupan toleransi dengan membangun sikap terbuka, menghormati, dan bekerja sama dalam bentuk konstruktif dan produktif.
Kerusuhan agama di Papua dan Aceh tak perlu terjadi jika kelompok mayoritas di kedua daerah itu memberikan kesempatan umat minoritas beribadah. Yang mayoritas melindungi minoritas. Yang mayoritas juga yang minoritas tak sepatutnya memaksakan kehendak mengikuti ajaran agamanya. Termasuk mendirikan rumah ibadah dengan sesuka hati.
Momen perayaan maulid yang berdekatan dengan Natal kemarin, menjadi peristiwa terindah di negeri ini, juga Lampung. Perayaan berselang sehari itu mengajarkan kepada anak bangsa untuk saling menghargai, menghormati antarumat beragama. Dua agama untuk satu cinta, namanya kedamaian untuk negeriku. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Desaku Miskin

Next Post

Kelompok Militan Lampung

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Kelompok Militan Lampung

Lilin Kecil

Berberes Bandit

Lilin Kecil

Gaya Dang Ike

Lilin Kecil

Dirongrong dari Dalam

Lilin Kecil

Nyamuk Nakal Mematikan

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist