PRESIDEN Jokowi benar-benar ingin mengobati kerinduan rakyatnya untuk menonton sepak bola. Malam ini di Stadion Gelora Bung Karno (SGBK), puluhan juta mata akan menyaksikan laga final tim Persib Bandung dengan Sriwijaya FC. Keduanya bakal menguras tenaga, pikiran, dan strategi permainan agar bisa membawa pulang Piala Presiden 2015 dan uang Rp3 miliar.
Final sepak bola itu menyedot perhatian anak bangsa, tak terkecuali Sang Presiden. Jokowi sendiri akan menonton secara langsung ke SGBK. Bahkan mantan wali kota Solo itu melakukan kick-off (tendangan pembuka) seperti halnya saat membuka turnamen ini di Stadion Kapten Dipta, Gianyar, akhir Agustus lalu.
Sepak bola memang membius bangsa ini. Tak terkecuali tokoh di Lampung yang sangat mencintai olahraga bola karet. Seperti diberitakan Lampung Post, Sabtu (17/10), Gubernur dan Kapolda Lampung, Rektor IAIN Raden Intan, Bupati Lampung Barat (Lambar) termasuk Ketua Komda PSSI Lampung Hartarto Lojaya berkomentar tentang laga final olahraga bergensi itu.
Mengapa bergensi? Karena biaya pembinaan dan pertandingan sangat mahal, sementara piala atau medali yang diperebutkan hanya dihitung satu keping. Pencintanya pun, mulai dari kaum marginal hingga masyarakat papan atas. Gubernur Ridho Ficardo, Kapolda Edward Syah Pernong, Rektor IAIN Moh Mukri, juga Bupati Lambar Mukhlis Basri menjagokan Persib “Maung Bandung”. Bahkan mereka pun berani menyebut skor akhir pertandingan. Hebat!
Dukungan untuk Persib sangat masuk akal. Tidak karena tokoh ini pernah berdiam di Kota Kembang, akan tetapi lebih mencermati pembinaan, spirit warga Jawa Barat terhadap olahraga sepak bola begitu besar dan mendalam. Edward, Mukri menilai pasukan Parahyangan itu unggul di semua lini di lapangan. “Permainan Persib lebih dinamis. Sriwijaya itu kan masa lalu,” kata Edward beralasan.
Beda dengan Hartarto. Pengusaha yang juga politikus ini mengunggulkan Sriwijaya FC. Kesebelasan Laskar Wong Kito itu memiliki pemain yang sangat lihai. Dulu, kata dia, sepak bola tidak begitu digemari masyarakat. Sejak berdirinya Stadion Jakabaring, rakyat Palembang pun ramai-ramai memadati stadion ingin menyaksikan pertandingan sepak bola.
Belajar dari Bandung dan Palembang, Hartarto berharap klub sepak bola di Lampung bisa berkibar lagi di tingkat nasional. Mewujudkan cita-cita mulia itu, diperlukan dukungan kuat dan lebih. “Potensi Lampung cukup besar. Purwaka Yudhi yang membela Arema Cronus adalah pemain asal Lampung,” kata Hartarto.
***
Memang sepak bola Lampung ini harus bangkit lagi. Dulu pernah ada PS Jaka Utama Lampung, Lampung Putra, PSBL, terakhir ada Lampung FC. Hampir di setiap kabupaten dan kota memiliki lapangan sepak bola. Tinggal niat dan usaha untuk membangkitkan kembali dan merawatnya agar “Jaka Utama Junior” atau Gajah Lampung Muda menggelegar seantero Nusantara.
Niat tulus itu datang dari pencinta sepak bola di Tanah Lada ini. Gubernur Ridho yang juga ketua umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung bercita-cita mengibarkan kembali panji Gajah Beringas di lapangan. “Nanti kami carikan polanya supaya tumbuh bibit baru. Lampung harus mencari pemain baru. Lampung tidak akan membeli atlet–pemain dari luar,” kata Ridho, mantan atlet tenis lapangan itu.
Niat tersebut didukung oleh fasilitas lapangan membentang di mana-mana di Lampung. Hanya sumber dana yang harus dicari sehingga cita-cita dapat terwujud. Soal pelatih, Lampung memiliki pelatih putra daerah, Rahmad Darmawan, namanya. Karena Lampung menyia-nyiakan Rahmad, ia pun dikontrak oleh berbagai kesebelasan di negeri ini. Sebenarnya, nuraninya ingin melatih pemain di tanah kelahirannya. Paling tidak, kerja keras dan menyatukan kekuatan—membuat sepak bola Lampung kembali berkibar di lapangan hijau. Gajah Lampung menyeruduk gawang lawannya.
Di era 1990-an, ketika Lampung dipimpin Gubernur Poedjono Pranyoto, provinsi ini mengibarkan bendera dengan sukses di kompetisi Liga Utama Indonesia. Julukan tim sepak bola Gajah Lampung mengharumkan nama daerah. Olahraga melesat sukses karena menjunjung tinggi sportivitas, kejujuran, kesatria, dan disiplin.
Lampung harus membangkitkan fanatisme daerah. Jangan sampai Lampung ikut-ikutan transfer pemain. Saat ini, atlet banyak memburu fulus dan mengejar bonus. Percuma, jika kesebelasan memenangi pertandingan berskala nasional tapi isinya banyak pemain bayaran. Tak ada yang patut dibanggakan.
***
Transfer pemain membunuh komitmen atlet terhadap daerah asalnya, bahkan negeri ini. Pemain terjebak dengan bayaran—bonus tinggi. Dia melupakan bakti untuk membela tanah tumpah darahnya. Di balik itu, daerah juga bangsa ini harus memperhatikan masa depan atlet berprestasi sehingga pemain tak tergiur dan mencari bonus di tempat lain.
Tidak cukup fasilitas dan pemain saja, suporter dan fan juga memengaruhi kesuksesan kesebelasan. Jika Persib punya Bobotoh, Sriwijaya FC punya Laskar Wong Kito, Persija Jakarta pendukungnya Jak Mania. Lampung juga miliki pendukung bernama Bala Fans. Pasukan penggembira ini salah satu indikator sukses atau tidaknya pertandingan itu berlangsung.
Pengalaman pahit di negeri ini, sebuah pertandingan tanpa pendukung dan penonton. Laga persahabatan Timnas Indonesia U-23 dengan Malaysia U-23 pada Mei 2015 lalu. Laga itu berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, benar-benar tidak ada penonton. Fan kedua kesebelasan menyaksikan pertandingan di luar stadion. Tragis memang. Di luar negeri, pertandingan Kroasia dan Italia bertanding tanpa penonton. Pertandingan kualifikasi Piala Eropa 2016, pada Juni 2015 lalu itu adalah hukuman karena pendukungnya sering melakukan aksi kekerasan.
Negeri ini harus bermimpi menata kembali organisasi sepak bola secara profesional. Masyarakat sepak bola perlu menoleh ke belakang dan menatap masa depan. Hancurnya sepak bola di Indonesia akibat penonton dan pengurus PSSI tidak transparan terhadap laporan keuangan.
Piala Presiden 20015 adalah langkah awal membenahi mentalitas pemain, pelatih, dan pengelola sepak bola. Lalu jargon siap menang siap kalah harus ditancapkan kepada nurani anak bangsa. Persib Maung Bandung dengan Bobotoh dan Sriwijaya FC dengan Laskar Wong Kito harus berani mengatakan itu.
Karena laga final di Jakarta, fokus utama aparat adalah menjaga keamanan agar tidak rusuh. Jangan sampai musuh bebuyutan Bobotoh sejak 1999—Jak Mania—membuat ulah. Suporter membikin ulah, rakyat pencinta sepak bola harus menanggung deritanya. Cukuplah PSSI berkonflik yang membuat ratusan pemain bola di negeri ini tidak bisa tersenyum bahagia hingga hari ini. ***


