MINA salah satu tempat berdiamnya jutaan jemaah haji dari seluruh dunia untuk melempar jamrah. Di kota ini sering terjadi tragedi berdarah karena memang jutaan umat manusia terkonsentrasi di satu tempat dalam waktu bersamaan untuk melontar batu kerikil, sebuah rangkaian wajib haji yang dikerjakan jemaah.
Melempar pada hari pertama pascawukuf di Arafah sangat melelahkan dan emosi tinggi. Mengapa? Jemaah kurang tidur ditambah asupan makan dan minum alakadarnya karena memang waktu wukuf dimanfaatkan untuk ibadah mengharap rida Allah. Jemaah harus banyak bersabar, menahan diri dalam segala bentuk perilaku selama berpakaian ihram (dua helai kain putih).
Dari siang hingga keesokan sore harinya—wukuf—berdiam di Arafah. Lalu malamnya, jemaah pindah ke Muzdalifah untuk mabit (bermalam) sambil mengambil tujuh batu kerikil. Tengah malam jemaah mulai bergerak ke Mina untuk melakukan prosesi melempar jamrah dan tahalul (menggunting tujuh helai rambut).
Menjelang melempar itulah kondisi fisik jemaah sudah mulai melemah karena tenaga terkuras selama dua hari dua malam. Dan sangat wajar, jika terjadi tragedi di Mina kemudian banyak jemaah meninggal dunia. Apalagi jemaah yang tak mematuhi peraturan yang ditetapkan petugas; sudah tersesat dan nyawa pun ikut melayang.
Adalah peristiwa Terowongan Mina, pada 2 Juli 1990 yang menelan korban 1.426 jemaah. Terakhir, Kamis (24/9), ratusan jemaah meninggal akibat kelalaian di Jalan 204, kawasan Mina. Pelaksanaan haji tahun ini sangat buruk pascatragedi Mina tahun 1990. Pemerintah Arab Saudi gagal dan tidak optimal melayani tamu Allah. Dalam musim haji tahun ini saja, dua kali terjadi peristiwa berdarah.
Pertama, Jumat (11/9), crane untuk perluasan bangunan Masjidil Haram runtuh diterjang badai menimpa ratusan jemaah. Dalam sekejab, peristiwa itu merenggut nyawa ratusan jemaah yang sedang berdiam di masjid. Kedua, Kamis (24/9), ratusan jemaah meninggal dunia akibat berdesak-desakan di jalan usai melempar jamrah di Mina.
***
Atas pelaksanaan jamrah itu, Pemerintah Arab Saudi menuai kritik akibat terjadinya tragedi berdarah yang menewaskan ratusan jemaah. Dalam editorial Arab News bertajuk Tragedi Mengguncang Kita Semua, otoritas Saudi menyalahkan ketidakdisiplinan jemaah haji dalam tragedi tersebut.
Dikutip dari editorial itu, “Menangani 2 juta hingga 3 juta muslim dari 164 negara dan kultur berbeda adalah sebuah tugas raksasa. Kerajaan menghabiskan miliaran riyal untuk manajemen haji dan mengerahkan sumber daya terbaik. Pemerintah tidak mengambil keuntungan apa pun dari operasi masif haji.”
Pembelaan atas tragedi Mina datang juga dari Imam Masjidil Haram Syekh Saleh Al-Thalib. Dia mengkritik pihak-pihak yang mengaitkan tragedi dengan politik. Diberitakan Saudi Gazette, Al-Thalib dalam khotbah salat jumat menegaskan Arab Saudi mampu melaksanakan tugas melayani dua masjid suci dan tamu Allah. Dia mendesak Pemerintah Saudi harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan negaranya.
Banyak saksi mata menuturkan tragedi berdarah Mina di pagi hari itu akibat askar (pasukan pengamanan Arab Saudi) yang membelokkan jalan jemaah ke Jalan 204 di kawasan Mina. “Ada tiga orang askar membelokkan. Aneh sekali, padahal jalan sudah kelihatan berjubel,” kata Roni Erdianto (34) kepada Tim Media Center Haji. Roni adalah salah seorang jemaah haji Indonesia Kloter JKS 61 yang lolos dari lubang maut.
Pada saat itu, kenangnya, kondisi jemaah bertabrakan, ada yang hendak ke jamarat dan ada pula jemaah yang pulang dari jamarat dalam satu ruas jalan. Keduanya bentrok, tidak ada yang mau mengalah, sementara di bagian belakang terus mendorong untuk maju. Suasana memanas tak terhindarkan. Korban mulai berjatuhan.
Sisa tenaga jemaah hanya bisa bertahan dalam hitungan menit di tengah impitan ratusan orang yang melewati Jalan 204. Akibat peristiwa itu, sebanyak 225 jemaah Indonesia belum kembali ke tenda penginapan sejak kejadian pada 24 September 2015.
***
Melempar jamrah memiliki filosofi yang sangat dalam bagi jemaah. Selain perlambang melontar iblis yang menjadi musuh manusia, juga jemaah ingin cepat-cepat menyelesaikan rangkaian wajib haji dan melepas kain ihram yang sudah melekat tiga hari di tubuh. Di Mina, jemaah haji wajib melempar tiga jamrah yang dimaknai membuang tiga sifat pendurhaka Allah (thaghut) dalam diri manusia, seperti Qarun, Bal’am, dan Fir’aun.
Jamrah ula, melempar pertama memaknai sifat Qarun dari dalam diri jemaah. Lemparan batu pada jamrah ini menjadi simbol membebaskan diri dari sifat-sifat Qarun. Qarun senang dengan “ujub”—mengagumi diri sendiri. Dan dia juga lalai bersyukur, suka pamer kekayaan, tamak, serta pelit untuk mengeluarkan hartanya membantu orang miskin.
Lalu melempar kedua, jamrah wustha. Sebuah simbol membebaskan diri dari sifat Bal’am. Manusia satu ini suka menjilat, menjual kebenaran demi syahwat dunia, haus pangkat dan perselingkuhan. Sedangkan melempar ketiga, jamrah aqobah. Lemparan di tempat ketiga ini membuang sifat-sifat Fir’aun yang melekat dalam diri jemaah. Musuh Nabi Musa itu mempunyai sifat sombong dan durhaka—menyekutukan Allah.
Kalaupun jemaah merenungi makna tiga jamrah tentu tidak akan terjadi insiden di pagi buta itu. Otoritas Arab Saudi menyalahkan jemaah yang kurang disiplin dan tidak patuh terhadap pengaturan arus jemaah. Tragedi ini terburuk dalam 25 tahun terakhir selama musim haji. Bangsa Iran marah dan mencaci maki Saudi karena tidak mampu mengendalikan momen besar tersebut. Warga Iran yang tewas dalam tragedi itu 131 orang. Negeri minyak dinilai gagal menjaga muruah dua kota suci dan sebagai pelayan tamu Allah.
Dalam 10 tahun ini, kesucian Kota Mekah mulai memudar karena telah disulap menjadi kota metropolis tanpa islami. Situs-situs bersejarah peninggalan Rasulullah dan sahabat tergusur, termasuk Kakbah tenggelam oleh gemerlapan Mecca Royal Watch, kompleks hotel dan mal yang dibangun keluarga Kerajaan Saudi. Yang jelas, muslim datang dari seluruh dunia ke Negeri Arab bukan untuk mati sia-sia, melainkan ingin menunaikan ibadah haji. ***


