PERBINCANGAN membahas masa depan peternakan sapi di Lampung ternyata menyita perhatian Wakil Gubernur (Wagub) Lampung Bachtiar Basri. Kamis siang (21/5), saya menemui mantan Bupati Tulangbawang Barat itu di ruang kerjanya. Saya pun menceritakan hasil perjalanan ke Negeri Kanguru atas undangan Kedutaan Australia.
Di Australia, saya bersama media lainnya mengunjungi peternakan sapi di Katherine Darwin, lalu ke Gympie Brisbane, dan terakhir transit di Sydney sebelum pulang ke Indonesia. Kepada Wagub, saya mengisahkan bagaimana Australia bisa memasok sapi secara sehat dan daging halal masuk ke Indonesia.
Hasil perjalanan ke Australia itu, membuat naluri jurnalistikku, bagaimana Lampung ini bisa berbuat lebih banyak terhadap peternak sapi. Dalam diskusi itu, Bachtiar, seorang birokrat ternyata sangat senang dan mencintai dunia pertanian juga peternakan.
Dia bersemangat agar provinsi ini dapat mewujudkan keinginan Pemerintah Pusat sebagai provinsi produsen ternak sapi untuk ke kawasan ibu kota Jakarta dan sekitarnya, serta provinsi lainnya di Pulau Sumatera. Provinsi Lampung, kata Bachtiar, sangat berpotensi mengembangkan peternakan sapi.
Itu terbukti, Lampung memiliki sedikitnya 11 perusahaan penggemukan sapi. Di balik nama besar itu, persoalan yang dihadapi Lampung adalah terkendala mendapatkan pasokan sapi betina. Lampung membutuhkan indukan betina sehingga bisa mempertahankan julukan sebagai daerah produsen ternak sapi.
Sapi yang didatangkan dari Australia berkelamin jantan, jenis sapi potong alias sapi penggemukan bukan untuk dikembangbiakkan. Kata Bachtiar, jika itu terpenuhi, Lampung akan menyandang lumbung ternak nasional, bukan lagi Lampung importir sapi terbesar dari Australia. Bisakah Tanoh Lada berbuat seperti? Semua tergantung dari kekuatan lobi pemerintah daerah dan pusat dengan Pemerintah Australia.
***
Masih kata Bachtiar, Indonesia masih ketergantungan sapi dari Australia. Jika negeri itu mengembargo sapinya, Indonesia akan terpuruk. Lampung tak lagi sebagai provinsi lumbung ternak juga daerah produsen ternak sapi. “Ini yang ditakutkan, jika Lampung tidak memiliki sapi betina,” kata Wakil Gubernur.
Soal pakan ternak sapi, Lampung tidak diragukan lagi. Lampung sangat berlimpah pakan sapi, seperti kulit kopi, ampas singkong, dan ampas nanas. Pemilik peternakan sapi Cave Creek Station di Mataranka, Katherine, Northern Territory (NT), Rohan Sullivan (51), menceritakan sangat tidak ekonomis jika Australia menggemukkan sapi. Sapi Mataranka digemukkan di Indonesia karena pakannya sangat mencukupi dan layak konsumsi.
Mantan Presiden Northern Territory Cattlemen’s Association (Asosiasi Peternak Northern Territory) itu mengisahkan mengembangkan ternak sapi, ia membutuhkan tambahan makanan berupa mineral seperti garam (salt), urea, fosfat, dan sulfat. Mengapa harus ditambah? Karena pakan di Mataranka kandungan gizinya belum mencukupi dan harus ditambah mineral. Pakan ternak di Australia berbeda dengan di Indonesia.
Rohan mengungkapkan Indonesia adalah pasar terbesar ekspor sapi dari NT. Karena dengan pakannya, berat sapi yang dikirim berkisar 280—300 kg. Lalu di Indonesia digemukkan di feedlot, dan bisa mencapai berat 400—450 kg. Sapi itu siap dipotong.
Selain Rohan, ada juga peternak yang saya jumpai di NT, yakni Garry Riggs. Dia adalah eksportir juga pemilik peternakan Lakefield Station. Keduanya memiliki 7.000—8.000 ekor sapi yang dilepasliarkan di lahan puluhan hektare. Peternakan milik Garry sering meraih penghargaan, di antaranya National Landcare Awards 2014 kategori Sustainable Farm.
Memang sapi Australia dikembangbiakkan secara liar dan kesehatannya terjaga. Sapi juga memakai tanda radio frequency identification (RFID). Dengan tanda itu bisa ditelusuri data tentang sapi tersebut. Australia memiliki sistem tercanggih menjamin kesehatan hewan. Sapi yang layak ekspor memperoleh sertifikat bebas penyakit yang dikeluarkan laboratorium yang ditunjuk Pemerintah Australia.
***
Peneliti dari laboratorium hewan Northern Territory Government, Dr Joe Schmidt, melakukan penelitian sapi yang dikirim ke Indonesia. Laboratorium tempat dia bertugas berwenang menerbitkan sertifikasi hewan yang diekspor. “Sertifikasi bebas penyakit dan virus. Jika hewan yang membawa penyakit, tidak akan dikeluarkan sertifikatnya,” kata Joe.
Dia berharap pihak karantina hewan di Indonesia melakukan hal yang sama—meneliti kembali sapi yang didatangkan dari Australia. Hubungan dagang kedua negara sangat kuat dan saling percaya. Maka itu, laboratorium menjaga kepercayaan itu dan menjamin kesehatan sapi yang diekspor ke Indonesia.
Lampung sendiri memiliki karatina hewan. Persoalannya, apakah karantina kembali melakukan pengecekan sapi yang diimpor dari Australia? Semua tergantung dari niat tulus, bukan karena fulus alias duit.
Satu hal yang sangat penting disampaikan peternak Australia. Mereka tidak mengekspor sapi indukan. Karena negeri itu—sama halnya Amerika dan India, tempat hidup sapi berkelas tidak menginginkan terjadi persaingan dagang sapi antarnegara. Ini rahasia perusahaan, Mas! Sikap itu disampaikan Shane. Dia seorang peternak indukan sapi, Brahman Company, Garglen, di Kandanga, Queensland.
Tentang sapi indukan atau sapi betina, saya teringat dengan salah satu surah dalam Alquran bernama Al-Baqarah, yang berarti sapi betina. Dalam surah itu disebutkan kisah perjalanan hidup Nabi Musa dan Bani Israil. Asal usul sapi betina yang dimaksud Al-Baqarah, terjadinya peristiwa pembunuhan di kalangan Bani Israil. Musa kemudian memerintahkan Bani Israil menyembelih seekor sapi guna mengetahui siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya.
Akan tetapi, umatnya tidak menghiraukan perintah Nabi Musa, bahkan mereka terkesan bodoh karena terus-menerus bertanya tentang jenis sapi apa yang harus disembelih. Setelah mendapatkan penjelasan tentang jenis sapi yang akan disembelih itu, akhirnya Allah menyingkapkan rahasia, siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya. (QS Al-Baqarah: 72-73).
Arti yang terkandung dalam ayat itu, apa pun di atas muka bumi dengan kekuasaan-Nya, Allah dalam sekejap bisa menghidupkan dan mematikan makhluk, kapan pun dan di mana pun. Tidak ada yang kekal dan abadi di dunia. Lalu hikmah dari peristiwa umat Musa, bangsa Israil suka sekali mempersulit dirinya sendiri juga orang lain, yang sebenarnya mudah dimengerti. Dan tidak ada satu pun rahasia hidup manusia yang tidak diketahui Sang Pencipta, Allah swt. Paham kan? ***


