BANYAKNYA peraturan dan isu politik membuat peternak sapi di kedua negara, Indonesia dan Australia, gelisah menjalankan bisnis industri sapinya. Adalah Dayu dan Rohan. Dayu adalah direktur PT Great Giant Livestock (GGL) yang berdomisili di Terbanggibesar, Lampung Tengah. Rohan adalah manager cattle Cave Creek Station di Mataranka, Northern Territory (NT), Australia.
Mereka mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam membuat kebijakan ekspor dan impor sapi. “Sapi selalu menjadi bahan politisasi, kami pedagang merasa sangat dirugikan,” kata Dayu, yang bernama lengkap Dayu Ariasintawati. Hal serupa juga disampaikan Rohan M Sullivan.
Tidak itu saja, vonis mati dua warga negara Australia oleh regu tembak di Pulau Nusa Kambangan menjadi isu tak sedap, tapi bagi pebisnis sapi sedikit terganggu. Kebanyakan orang mempertanyakan vonis mati dengan keberlangsungan perdagangan sapi kedua negara. “Saya pernah ditelepon wartawan Australia, menanyakan terganggu atau tidak hubungan dagang terkait vonis mati Bali Nine? Saya jawab, tidak berpengaruh,” kata Rohan saat ditanya. Vonis mati tidak ada hubungan yang sangat signifikan terhadap perdagangan industri sapi.
Bagi Rohan, terganggunya hubungan dagang manakala Pemerintah Indonesia tidak konsistennya membuat kebijakan kuota sapi yang harus dikirim ke Indonesia. Perdagangan sapi secara perseorangan berjalan lancar, tambah Rohan. Memang sapi adalah bisnis yang menggiurkan bagi peternak Australia. Begitu juga peternakan di Indonesia, bahkan di Lampung.
Teman Rohan, Gerry Riggs, berucap sistem peternakan sapi yang dilakukan di kedua negara sangat baik. Di Australia, sapi dilahirkan dan dibesarkan sampai umur 2 tahun dengan berat badan 280 kg. Lalu, sapi itu dibawa ke Indonesia untuk digemukkan. Mengapa penggemukan sapi di Australia tidak menguntungkan karena Negeri Kanguru kesulitan mencari dan membuat pakan ternak jika dibandingkan di Indonesia, apalagi di Lampung. Biaya akan lebih murah dibandingkan Australia, kata Gerry, pemilik peternakan Lakefield Station di kawasan Katherine, NT.
***
Memang beternak sapi di Indonesia tidak sebaik di Australia. Negara tetangga memiliki lahan yang sangat luas untuk mengembangbiakkan sapi sampai ribuan ekor. Sapi dilepasliarkan begitu saja dalam pagar kawat, tidak seperti halnya di Indonesia. Di Lampung, hanya di atas lahan puluhan hektare—dilengkapi fasilitas kandang serta tempat makan tersusun rapi.
Bagi luar negeri, peternakan itu suatu penyiksaan hewan, tapi bagi Indonesia suatu hal yang biasa. Jika sapi dilepasliarkan, jumlah sapi bakal menyusut bahkan habis dimangsa maling. Rohan pernah ke Indonesia dan dia menyaksikan sapi milik temannya dicuri karena dipelihara di alam bebas. Keuntungannya di Indonesia, tutur Rohan, bahan pakan tersedia begitu banyak dengan berbagai jenis. Hal itu dikuatkan Dayu. Perempuan cantik ini bergembira karena grup perusahaannya, PT Great Giant Pineapple Co (GGPC) dan petani binaan menghasilkan bahan makanan ternak yang siap diolah untuk pakan sapi.
Tidak hanya melibatkan petani memproduksi pakan, Dayu dengan optimismenya menjalin kemitraan dengan petani penggemukan sapi. GGL memasuki dunia industri sapi, kata dia. Dia merangkul puluhan petani—tahap pertama—mengembangbiakkan dan menggemukkan sapi di luar kandang GGL. Mengapa? Menurut Dayu, permintaan sapi dan daging tiap tahun meningkat. Jika tidak diantisipasi seperti program kemitraan—Lampung akan kekurangan daging. Dayu juga berbagi ilmu pengetahuan tentang penggemukan sapi Australia ke warga di sekitar perusahaan.
Di Lampung, bukan hanya GGL yang mengembangkan industri ternak sapi, ternyata ada juga perusahaan di Lampung Selatan, Lampung Timur, bahkan beberapa kawasan ternak lainnya milik rakyat. Masa depan Lampung sebagai lumbung pangan—daging sapi—sangat terbuka dan bertambah maju. Konsul RI di Darwin, Andre Omer Siregar, optimistis Lampung menjadi salah satu tujuan importir sapi Australia yang sangat maju.
Keoptimisannya itu sangat beralasan setelah melihat perkembangan industri sapi Lampung dalam lima tahun terakhir. Hal itu diamini Kepala Kantor Kementerian Luar Negeri NT, Australia, Lorenzo Strano.
***
Keoptimisan kedua duta—Andre dan Lorenzo—itu perlu didukung oleh regulasi dan sumber daya manusia. Dalam beberapa hari di Darwin, Australia, saya berpikir akankah Lampung bisa memenuhi permintaan daging sapi untuk kebutuhan Jakarta dan daerah lainnya. Saya yakin, Lampung mampu mewujudkannya. Selama beberapa hari berada di Negeri Kanguru, pekan ini, Sai Bumi Ruwa Jurai memiliki banyak keunggulan dibanding provinsi lainnya.
Dalam perjalanan dari Darwin ke Brisbane menumpang pesawat komersial Qantas milik Australia, saya merenung dan menulis artikel ini merasa yakin bahwa Lampung bisa, asal Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Lampung mendukung percepatan industri peternakan sapi. Begitu pun pihak perguruan tinggi di sini segera membuka fakultas peternakan. Mengapa? Peternakan kini sudah memasuki dunia industri. Keinginan mulia itu patut didukung oleh sumber daya manusia yang mapan dalam ilmu peternakan.
Tekanan untuk membuka fakultas peternakan itu, saya terinspirasi 20 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia minus Universitas Lampung mendapat kesempatan belajar tentang peternakan di Australia. Adalah Johandi, mahasiswa Universitas Mataram, dan Firdha Rosemalinda Paulina, mahasiswi Universitas Diponegoro, memperdalam industri ternak sapi selama dua bulan. Mereka adalah masa depan negeri ini. Akankah Lampungku dapat mewujudkannya? ***


