PULAU Sumatera bermimpi dan terjaga dari tidur panjangnya. Tombol sirene meraung di tengah hutan diikuti suara alat berat: ekskavator, buldoser meratakan tanah. Pohon karet pun ditebangi. Suara itu membangunkan tidur panjang rakyat pulau yang banyak menyimpan kekayaan alam dari ujung utara dan selatan.
Tombol sirene yang dipencet Presiden Joko Widodo tepat pukul 10.30, Kamis (30/4), di Sabahbalau, Lampung Selatan, menandai dimulainya pembangunan jalan tol Sumatera yang membentang dari Bakauheni hingga Terbanggibesar sepanjang 140 km. Hari itu juga, Sang Presiden ke Palembang melanjutkan groundbreaking jalan tol yang membentang dari Kota Palembang hingga Simpang Indralaya sepanjang 32 km.
Dua ruas tol itu sebuah cita-cita membangun peradaban Sumatera bermartabat. Awal dari keinginan membangun Sumatera Highway terungkap dalam diskusi Konvensi Nasional Media Massa pada Hari Pers Nasional (HPN) di Jambi, Februari 2012. Menko Perekonomian Hatta Radjasa yang hadir saat itu menyatakan pembangunan jalur trans-Sumatera akan terkoneksi dengan jembatan Selat Sunda.
Cita-cita itu dipertajam lagi dalam Rapat Koordinasi Gubernur se-Sumatera yang berlangsung di Palembang, pada bulan itu juga. Kesadaran membangun tol karena Sumatera masih tertinggal, padahal pulau ini paling subur dan kaya sumber daya alam dibanding Jawa. Mulai dari minyak, gas, dan panas bumi, batu bara, emas, timah, karet, kelapa sawit ada di bumi Sumatera.
Sumatera juga sangat dekat dengan pusat pertumbuhan ekonomi regional negara-negara maju, seperti Singapura, Thailand, Jepang, Korea, dan Tiongkok. Tapi pada kenyataannya, Sumatera masih tetap miskin. Mengapa? Karena Sumatera tidak bertumpu pada keunggulan daerah. Kelemahan lain adalah infrastruktur jalan tidak mampu merangkai wilayah satu dengan lainnya di Sumatera. Lihat Jawa, satu kota bisa ditembus dari berbagai arah.
Belum lagi kondisi jalan-jalan di kota Sumatera lebih buruk dibandingkan jalan sekelas di kecamatan Jawa Barat. Begitu juga jalan di Yogyakarta dan Jawa Timur. Tanpa lubang. Sangat wajar jika pertumbuhan ekonomi di Jawa lebih cepat dibanding Sumatera.
Transaksi ekonomi di Jawa berjalan mulus seperti mulusnya jalan pantai utara (Pantura). Belum lagi jalur selatan, ditambah tol yang membentang dari Merak hingga Surabaya. Bagaimana dengan Sumatera? Lihat saja sendiri dan rasakan.
***
Di balik groundbreaking tol Sumatera di Sabahbalau, Kamis lalu, berbagai pengamat daerah ini dengan nada miring dan menyangsikan kelanjutan pembangunan jalan bebas hambatan. Selain dana, kata mereka, pembebasan lahan juga tersendat-sendat. Proyek mercusuarlah, sarang baru praktik korupsilah. Itulah nyanyian pengamat berkicau di ruang media sosial.
Seperti halnya, Ali Sadikin, mantan gubernur DKI Jakarta, membangun Tugu Monas dan fasilitas publik lainnya. Dia dicaci maki rakyat. Penonton bola memang sangat pandai berkomentar dibanding pemainnya. Kita lihat saja hasil akhirnya. Tol Sumatera melintasi Lampung adalah masa depan daerah ini. Mimpi 7,7 juta rakyat Lampung bahkan 50 juta lebih penduduk Pulau Sumatera menjadi kenyataan.
Anda pun harus tahu, Sumatera tidak akan berkembang jika kotanya tidak disatukan dengan jalan tol. Kotanya perlu membangun jaringan ekonomi seperti kota di Jawa. Ekonomi Sumatera tidak tergambar adanya pertumbuhan jika dilihat kekayaan yang dimilikinya. Biaya transaksi ekonomi antarprovinsi bahkan antarkabupaten dalam satu provinsi sangat tinggi karena infrastruktur jalan dan jembatan sangat jelek.
Groundbreaking tol yang membentang dari Lampung dan Aceh sepanjang 2.628 km di Sabahbalau dan Palembang pada Kamis lalu, adalah komitmen Pemerintah Pusat dan kegigihan Pemprov Lampung merealisasikan mimpi tahun 2012. Wujud mimpi itu juga didukung keuletan pembantu presiden bernama Rini Soemarno. Menteri BUMN ini mengungkapkan investor Tiongkok akan membiayai pembangunan infrastruktur Indonesia sebesar 50 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp645 triliun, jika kursnya Rp12.900. Dana itu untuk membiayai infrastruktur jalan tol, pelabuhan, pembangkit, dan transmisi listrik, serta pelayaran.
***
Warga dan isi hutan karet di Sabahbalau bersaksi bahwa Presiden Jokowi memberi target pembangunan ruas jalan tol di Lampung dan di Palembang selesai dalam tiga tahun. “Saya akan lihat ke lapangan mana yang perlu dijewer ya dijewer, kalau perlu dipotong ya dipotong. Ini untuk rakyat, jangan sampai untuk kepentingan jutaan rakyat bisa gagal gara-gara satu dua orang atau seratus orang,” kata Presiden membuat optimistis rakyat Lampung bahwa proyek monumental itu dalam tiga tahun ke depan bisa dinikmati masyarakat.
Jokowi mencontohkan pembangunan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) di Jakarta Selatan terhenti selama delapan tahun hanya gara-gara 143 warga yang tidak mau pindah. Padahal, pembangunan tol itu masih tersisa 1,5 km. “Ini yang tidak boleh terjadi di tol Sumatera, kepentingan lebih besar harus diutamakan daripada kepentingan segelintir orang,” kata Jokowi dalam sambutannya tanpa teks di depan bupati dan wali kota se-Lampung.
Tol Sumatera yang dibangun itu berbeda dengan tol yang ada di Jawa. Lebar tol Sumatera 120 meter. Di tengah ada jalan tol, dan tol bersinergi dengan jaringan transmisi listrik tegangan tinggi, juga terdapat jalur kereta api. Jokowi memberikan semangat kepada pembantunya, aparat keamanan TNI dan Polri, Gubernur Lampung Ridho Ficardo, juga bupati dan wali kota untuk berani bersikap jika sudah untuk kepentingan rakyat.
Memang Kamis pagi itu di luar dugaan, seyogianya Jokowi bersama rombongan melihat lokasi titik nol pembangunan jalan tol Sumatera di Bakauheni. Karena alasan teknis, Presiden hanya singgah di Sabahbalau. Akhir Mei ini, Jokowi berjanji berkunjung ke Bakauheni untuk menghadiri groundbreaking pembangunan empat dermaga di pelabuhan tersebut. Pembangunan dermaga itu kelanjutan tol yang terintegrasi dan terpadu dengan pelabuhan.
Lalu kapan jembatan Selat Sunda (JSS) dibangun? Jawabnya, setelah tol Sumatera rampung semua. Pembangunan JSS memberikan akses perpindahan penduduk dari Sumatera ke Jawa. Mengapa? Karena Sumatera sendiri belum mempersiapkan jaringan ekonomi dengan baik. Dimulainya pembangunan tol tersebut membuat rakyat Sumatera terjaga dari tidur panjangnya selama 60 tahun sejak negeri ini merdeka. ***


