JERUSALEM ternyata banyak menyimpan rahasia sehingga dunia pun rebutan dengan kota peninggalan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman itu. Kota penuh arti damai dan selamat itu ternyata tidak henti-henti menumpahkan darah dan mengubur ratusan ribu nyawa manusia akibat gejolak berkepanjangan hingga sekarang ini. Sungguh ironis sekali, Jerusalem tidak sesuai dengan sebuah nama kota yang damai dan selamat.
Ada apa dengan Jerusalem? Zionis Israel beragama Yahudi ngotot sampai ke ubun-ubun memperebutkannya. Suatu saat nanti, saya ingin mengunjungi kota tiga agama itu. Ingin melihat dari dekat, kota yang banyak menyimpan misteri. Di kota damai itu, terdapat Masjidil Aqsa (tempat mikraj Nabi Muhammad saw.), Bukit Golgota (tempat Yesus disalib), dan Tembok Ratapan (tempat suci umat Yahudi). Ketiganya berada dalam satu kawasan di Jerusalem.
Tanah sejengkal yang diperebutkan Israel dan pejuang Hamas, Palestina, berlangsung puluhan tahun. Bahkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika yang digelar sejak 1955 hingga 2015—selama 60 tahun, tidak henti-hentinya mengumandangkan kemerdekaan bagi Palestina. Tapi dunia tidak mampu menghentikan kebiadaban serdadu Israel. Palestina tidak diberi kemerdekaan. Moncong senjata Israel terus mencari bangsa Palestina. Bayi yang tidak berdosa pun tidak luput dari sasaran desingan peluru nuklir bangsa Yahudi.
Sejarah mencatat, Jerusalem sebuah warisan dunia yang dilindungi sejak 1981 oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bernama UNESCO. Kota ini telah dihancurkan dua kali, diserang 52 kali, dikepung 23 kali, dan dikuasai ulang 44 kali. Bahkan melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242, Zionis Israel wajib melindungi Masjid Al-Aqsa, tempat suci umat Islam ketiga setelah Mekah dan Madinah.
Resolusi menuntut Israel agar mundur dari seluruh wilayah Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza. Zionis juga harus menyerahkan wilayah tersebut kepada penduduk pribumi, bangsa Palestina. Kenyataannya, resolusi itu dianggap sepele Yahudi. Sungguh hebat Israel, negara kecil tapi bisa memengaruhi negara superpower. Amerika bertekuk lutut.
***
Bangsa Yahudi memang diberi kelebihan oleh Allah swt. Mereka sangat cerdas dan memiliki kekuatan dibanding bangsa-bangsa lain yang ada di jagat raya ini. Dalam Alquran Surah Al-Baqarah Ayat 47 berbunyi: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingat pula) bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.”
Kita lihat sederetan nama bangsa Yahudi yang terkenal. Rakyatnya memiliki inteligensia (IQ) rata-rata di atas 140. Adalah Albert Einstein, memiliki IQ 165, juga Bill Gates angka IQ bertengger di 155. George Soros dan Bill Gates menguasai 90 persen perekonomian dunia. Belum lagi Philip Morris. Morris adalah pemilik pabrik rokok yang menguasai 70 persen pasar rokok dunia. Anehnya, Israel mengharamkan rokok, tapi rakyatnya membangun pabrik rokok di mana-mana termasuk di Indonesia.
Di balik kelebihannya itu, Isreal memanfaatkannya untuk membantai umat lainnya. Perang yang berkecamuk di Jalur Gaza, Palestina, PBB mencatat, jumlah rakyat Palestina yang tewas pada 2014 tertinggi sejak 1967. Pada 1967 adalah awal Israel berkuasa atas Tepi Barat, Jalur Gaza dan wilayah di Jerusalem timur, setelah Perang Enam Hari.
PBB juga melaporkan, pada tahun 2014 itu, lebih 1.500 warga Palestina tewas. Dan 550 di antaranya anak-anak, lebih dari 11 ribu orang cedera dan 100 ribu warga kehilangan tempat tinggal. Sementara pihak Zionis yang tewas hanya 73 orang. Itu pun tentaranya bukan rakyat Israel. Kebrutalannya tidak bisa dihentikan PBB, termasuk sekutu Amerika.
***
Kalaulah bangsa Selatan Selatan (Asia Afrika) bersatu memberikan dukungan penuh kemerdekaan bagi Palestina, tentu negeri peninggalan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman itu tidak ada lagi pertumpahan darah. Persoalannya, ketegangan di Jerusalem berlatar belakang konflik agama. Israel berkukuh, di bawah Masjidil Aqsa terdapat bekas kuil—tempat suci Yahudi.
Dari abad ke abad, Aqsa ingin dimusnahkan. Pada 21 Agustus 1969, masjid peninggalan Umar bin Khatab itu dibakar Yahudi. Bahkan di bawah masjid dibangun terowongan—lalu dialiri air oleh Yahudi, dengan maksud fondasi tempat suci umat Islam itu lambat laun hancur lebur. Dendam kusumat Yahudi tidak berkesudahan. Kehidupan pengikut tiga agama di Jerusalem bagaikan mimpi.
Jikalau umat Islam kiblatnya tetap menghadap Masjidil Aqsa dan diwajibkan berziarah ke Jerusalem, tidak bisa dibayangkan betapa sulitnya. Ingin ibadah saja harus mendengar suara desingan peluru yang bersahut-sahutan menggempur Palestina. Beruntungnya, Nabi Muhammad mengalihkan kiblat tersebut menghadap Kakbah di Masjidil Haram. Mimpi jadi kenyataan.
Tapi Bangsa Palestina lebih bermimpi lagi ingin merdeka. Dalam hitungan negara yang hadir di KTT Asia Afrika di Bandung tahun 1955, hanya bangsa Palestina yang belum merdeka saat ini. Indonesia sangat berutang budi kepada Palestina. Mengapa? Karena negeri Yaser Arafat itu pula, bangsa yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Dalam pidato Presiden Joko Widodo pada peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, pekan ini, banyak hal yang disuarakan oleh wong Solo itu. Suara keras Jokowi agar PBB direformasi. PBB hanya menyuarakan kepentingan sekutu Amerika, tidak mau mendengar keluh kesah dan penderitaan negara di belahan benua Asia dan Afrika.
Menyikapi itu, negeri yang melahirkan seorang tokoh dunia bernama Soekarno, pencetus gerakan Asia Afrika, membangkitkan kesadaran—mendapatkan hak hidup yang layak, menentang ketidakadilan dan imperialisme. Ketidakadilan itu menyesakkan semua bangsa ketika PBB tidak berpihak kepada kebenaran.
Imperialisme dan kolonialisme tumbuh subur di tengah-tengah kemiskinan. Kemiskinan membuat orang cenderung dan patuh dalam kegiatan ekstremisme dan radikalisme. Bantuan di tengah kemiskinan yang ditebar Yahudi itu, adalah salah satu bukti, Zionis ingin terus menjajah bangsa-bangsa di dunia di bidang perekonomian dengan dalih memberi bantuan. Sadarlah. ***


