• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Anggrek Putih Lee

Maret 29, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

TIDAK salah rakyat Singapura menebar bunga anggrek putih di kawasan Sri Temasek, tempat disemayamkannya Lee Kuan Yew. Bunga untuk bapak bangsa yang sukses mengantarkan Negeri Singa sebagai pusat perekonomian, jasa, serta perdagangan berkelas dunia.

Hari ini, Minggu (29/3), Lee dimakamkan. Pemimpin Macan Asia itu berpulang pada Senin (23/3), pukul 03.18 waktu setempat, di Rumah Sakit Umum Singapura dalam usia 91 tahun. Rakyat memberinya bunga anggrek putih. Anggrek putih berlambang disegani, dikasihi, serta dihormati. Bunga ini juga bermakna kemurnian, kepolosan, keindahan, kelembutan, juga kebaikan dari rakyat untuk pemimpinnya.

Nama Lee Kuan Yew tak asing lagi didengar masyarakat Asia Tenggara. Sama halnya dengan almarhum Soeharto (Presiden ke-2 Indonesia), lalu Mahathir Mohamad (mantan Perdana Menteri ke-3 Malaysia). Ketiga tokoh itu dinilai sukses mengubah peradaban perekonomian.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Lee, kata kakek saya, bisa mengubah negara itu lebih maju. Pengalaman kakek bekerja pada 1970-an di sebuah kapal minyak swasta. Dia sering bersandar di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, dan Singapura, menceritakan bagaimana Singapura sukses mengelola pelabuhan. Lautnya bersih. Jika malam hari, pelabuhannya terang benderang seperti siang hari.

Tak jarang, jika kakek pulang dari Singapura, aku dibelikan mobil mainan pakai baterai. Jam dinding yang kini masih berdentang di rumah orang tuaku juga, dibeli kakek dari Singapura. Negeri Singa di tangan Lee menjadi kawasan perdagangan internasional.

Selama seminggu ini, berbagai surat kabar mengupas visi dan misi Lee mulai membangun Singapura dari keterpurukan ekonomi—masih di bawah pengaruh bayang-bayang Malaysia. Lee menjadikan Singapura sebagai oasis dunia. Dia membangun infrastruktur, pusat jasa pelayanan, pusat keuangan, serta transportasi laut dan udara berkelas dunia. Lihat sekarang, Singapura menjadi surga pebisnis, termasuk pencari hiburan.

***

Tangan dingin putra dari pasangan Lee Chin Koon dan Chua Jim Neo membawa negeri itu bersih dari praktik korupsi. Kuan Yew diartikan cahaya dan kecemerlangan. Orang tua Lee berharap anaknya bisa membawa kemuliaan bagi keturunan, juga rakyat yang dipimpinnya nanti.

Lee beristrikan teman sekelasnya sewaktu kuliah di Cambridge. Sang buah hati itu  bernama Kwa Geok Choo. Istrinya lebih dulu berpulang pada 2010, dengan meninggalkan tiga orang anak.

Dia berhasil mendidik anak tertua, Lee Hsien Loong, menjadi perdana menteri menggantikan Goh Chok Tong pada 2004. Anak keduanya, seorang dokter perempuan bernama Lee Wei Ling. Si bungsu yang kini memimpin sejumlah perusahaan bernama Lee Hsien Yang.

Ayah dari tiga anak itu menghabiskan studinya di Universitas Cambridge, Inggris, pada 1950. Usai kuliah, dia bertekad membebaskan Singapura dari penindasan. Karier politiknya dimulai dari penasihat hukum dan juru runding pekerja Kantor Pos. Lee berjuang agar pekerja pos mendapatkan upah yang layak serta meningkatkan kesejahteraan kaum tertindas.

Pemilu legislatif tahun 1959, Lee mengampanyekan antikorupsi. Jargon politiknya itu mengantar Lee duduk di kursi perdana menteri pertama Singapura. Di saat itu pula, Lee berkeras agar negara yang dipimpinnya harus maju, dan saat itu pula dia ingin memisahkan diri dari Malaysia.

Tapi, sebelumnya Lee mengusung Singapura masuk Fedeasi Malaysia pada 16 September 1963. Namun, karena kondisi di internal Singapura, Lee akhirnya menyatakan berpisah dengan negeri jiran, Malaysia, pada 9 Agustus 1965.

***

Singapura superhebat. Dia mulai membangun mental rakyatnya. Lee memotivasi masyarakat untuk berkarya dengan meningkatkan etos kerja serta disiplin terhadap perilaku dari kehidupan sehari-hari.

Dalam sebuah pernyataannya setelah bercerai dari Malaysia, Lee berucap, “Singapura tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah daratan yang berlumpur dan luasnya rawa-rawa di pinggiran laut. Kita akan membangun negeri yang multiras lebih baik lagi. Kita harus yakin, sepuluh tahun mendatang, Singapura harus maju dan berkembang pesat menjadi kawasan metropolis. Janganlah takut.”

Kita bisa lihat sekarang. Singapura adalah negara maju di Asia Tenggara, bahkan negeri itu dijuluki sebagai Macan Asia. Membangun Singapura, Lee kerap dikritik rakyatnya karena bertangan besi. Tidak masalah! Yang terpenting Singapura maju.

Lee mundur dari jabatan perdana menteri tahun 1990 dan menyerahkan kursi kepemimpinan kepada deputinya, Goh Chok Tong. Lee dipuji, tapi juga dimaki. Dia berhasil membangun perekonomian dan dinilai gagal membangun demokrasi. Semasa Lee, demokrasi multipartai dikerdilkan. Bagi Lee, rakyat butuh makan dan jaminan hidup, bukan politik.

Perjalanan membangun Singapura dikuatkan Phil Robertson dari lembaga swadaya masyarakat Human Rights Watch. Seperti dikutip harian The Wall Street Journal, Phil Robertson mengatakan Lee berhasil membangun perekonomian negerinya yang tidak bisa disangkal siapa pun. “Dalam berdemokrasi, rakyat dibatasi dalam berekspresi berpendapat. Pemerintahan Lee melakukan sensor. Hal itu tidak dapat dielakkan.”

Banyak hal yang positif didapat dalam diri Lee saat memimpin Singapura. Sang perdana menteri itu tidak ada kata yang bersayap dalam mengambil kebijakan. Dia suka bicara apa adanya alias blak-blakan. Pelajaran lain adalah Lee menyiapkan kaderisasi di semua lini pemerintahan, termasuk suksesi kepemimpinan negara.

Terakhir adalah kerja keras dan keuletan. Lee kini dikenang karena Singapura maju perekonomiannya. Tapi negeri itu buruk di mata Indonesia karena melindungi para koruptor kelas kakap.

Negeri Lee surga bagi koruptor Indonesia. Mereka dilindungi, dilayani, harta korupsi disimpan di bank Singapura. Data Indonesian Corruption Watch (ICW) menyebutkan ada 17 buron kasus korupsi yang bermukim di Singapura. Total kekayaan orang Indonesia yang berada di Singapura mencapai 87 miliar dolar AS atau setara Rp750 triliun. Angkanya sangat fantastis.

Tapi bagi Lee sendiri, negerinya harus bebas dari korupsi. Dalam pemberantasan korupsi, Singapura berada urutan ke-7 dari 175 negara, sementara Indonesia berada di peringkat 107. Pemberantasan korupsi membuat Singapura makin dipercaya investor asing–berlomba-lomba menanamkan modalnya. Lee memberikan janji dan buktinya. Negeriku, Indonesia, sampai kapan seperti Singapura? ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Sedotannya Dahsyat

Next Post

Satu Ranjang

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Satu Ranjang

Lilin Kecil

Gelapnya Penumpang

Lilin Kecil

Delapan Penjuru Angin

Lilin Kecil

Mimpi Tiga Agama

Lilin Kecil

Terjaga Tidur Panjang

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist