MULAI dari anak kecil hingga orang dewasa, warung kopi hingga hotel berbintang, dari rakyat biasa hingga pejabat, tak bosan-bosan membicarakan batu mulia dan cincin batu. Terkadang di acara resmi pun dipelesetkan dengan joke-joke kekhasiatan permata yang melingkar di jari tangan. Gejala marak dan gemarnya mencintai batu mulai tiga tahun belakangan ini.
Memang negeri ini lagi demam batu. Dulu hanya dua yang dikenal; berlian dan intan, karena menghiasi wanita. Kini, banyak lagi; giok, safir, merah delima, zamrud, pirus, kecubung, bungur, satam. Harganya pun mulai ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta. Batu mulia nan permata adalah salah satu warisan seperti halnya keris Mpu Gandring.
Dulu, guru bela diriku memakai cincin batu di enam jari kanan dan kirinya. Banyak khasiatnya. Percaya atau tidak, tapi dia pernah berkata, “Masing-masing batu mempunyai sejarah, memiliki khasiat dan kekuatan untuk menyembuhkan penyakit.”
Tidak banyak yang memakai batu cincin saat itu. Kalaupun ada, hanya kalangan kaum hawa yang memakai berlian dan intan tadi sebagai perhiasan. Kini, batu mulia menjadi kebanggaan, bahkan menaikkan status sosial. Efek domino dari demam batu mulia itu, di sudut kota banyak berdiri kios-kios batu. Tak jarang di mal juga menggelar pameran batu bergensi selama beberapa hari sampai larut malam.
Batu mulia menjadi bisnis baru masyarakat. Kerajinan mengasah batu menjadi mengilap dibungkus dengan logam adalah industri rumah tangga saat ini. Jika dikelola dengan baik dan benar, bisnis itu akan tumbuh besar dan mengisi kocek. Adalah Negara Tiongkok, dengan sukses membanjiri bisnis pasar batu di belahan dunia.
Bagaimana dengan Indonesia? Industri cincin batu di negeri ini masih digarap dengan sangat tradisional. Pemerintah tidaklah menutup mata, apalagi sebagian pejabat senang dengan cincin batu. Tak salah dan belum terlambat, jika pemerintah membantu rakyat mengembangkan bisnis cincin batu seperti di Tiongkok—dengan berbagai desain dan pola pemasarannya.
***
Sejumlah situs dan media cetak memaparkan beragam jenis batu mulia di muka bumi ini. Mulai dari cerita mistis, harga jual, hingga batu yang membuat orang percaya diri dan tergila-gila jika sudah memakainya. Hebat kan! Itulah kekuatan dari batu mulia yang digandrungi saat ini. Tak sungkan-sungkan, orang mengeluarkan isi koceknya demi cincin batu.
Lampung, daerah ini menyimpan batu mulia. Namanya batu bungur tanjungbintang. Temanku pernah share ke media sosial, siapa yang belum memakai cincin batu bungur berarti belum dikatakan orang Lampung. Dahiku berkerut membaca pesan itu. Ternyata, batu bungur yang banyak ditemukan di kawasan Lampung Selatan adalah salah satu batu primadona, juga mahal harganya di dunia.
Batu bungur memang menghentak dan membawa harum daerah ini. Alangkah baiknya batu berwarna ungu bening itu diolah, dikelilingi jenis batu lain, serta diikat dengan logam, tentu akan lebih indah lagi. Pasti harganya selangit. Bungur yang ditemukan tahun 1970-an banyak menghiasi kios-kios batu di Lampung.
Saat temanku mengisi acara sebuah televisi nasional, dia memakai bungur di jari manis sebelah kanan dan jari kirinya melingkar giok. Bukannya penonton membahas isi dari acara itu, melainkan berkomentar cincin yang dikenakannya.
Dalam komentar di media sosial, ”Kalau sudah memakai bungur ditambah giok sudah pas. Bungur sangat disukai kaum pria yang punya selera tinggi. Bungur sama halnya jenis batu akik kecubung. Bagi pria yang memakainya, memudahkan pergaulan untuk membangun jaringan pertemanan lebih luas lagi.”
Ada lagi yang mengatakan batu bungur atau kecubung tadi akan meningkatkan semangat hidup bagi kaum adam karena luasnya pertemanan. Percaya atau tidak, itu kekuatan bungur termasuk batu lainnya. Sedotan bisnis batu bernilai puluhan miliar rupiah per hari dari mana pun, ternyata tidak sedahsyat batu hitam yang terletak di sudut kiri dinding pintu Kakbah. Hajar Aswad, namanya.
***
Wikipedia menulis, Hajar Aswad adalah batu yang diyakini umat Islam berasal dari surga. Batu yang tadinya berwarna putih bening menjadi hitam pekat karena banyaknya dosa yang menempel di batu tersebut. Batu yang memiliki aroma sangat khas itu sangat memikat untuk mencium berkali-kali.
Pertama kali ke Tanah Suci, aku hanya bisa menyentuhnya dengan tangan. Tidak kuat. Karena memang, untuk mencium perlu keikhlasan. Kedua kalinya pergi ke Rumah Allah itu, aku pun bisa menciumnya seraya berdoa. Bahkan sangat bahagia, saat itu bisa mengajak teman untuk sama-sama menciumnya di dua pertiga malam usai salat tahajud.
Lebih bahagia lagi, ketika pergi yang ketiga kalinya. Aku pun bisa memasukkan kepala jemaah untuk menciumnya, bahkan duduk di tempat sandaran kaki askar (keamanan Masjidil Haram) untuk memberikan kemudahan bagi yang ingin mencium batu dari surga tersebut.
Hajar Aswad juga tempat mulainya tawaf (keliling kakbah) sambil mengecupkan tangan kanan ke bibir sembari menyebut asma Allah. Untuk menyentuh apalagi ingin menciumnya, ada puluhan joki yang menawarkan jasa dengan imbalan uang. Memang, dari berbagai kalangan pergi ke Tanah Suci jika belum mencium Hajar Aswad, rasanya belum afdal (sah) ke rumah Allah.
Apa pun alasannya, Hajar Aswad adalah batu. Mengapa orang bersusah payah ingin menciumnya, apa bisa menghapus dosa atau mengikuti jejak Nabi Muhammad saw.? Dari kutipan sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori Muslim; “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan bahaya, dan tidak bisa mendatangkan manfaat. Seandainya karena aku melihat Rasulullah saw. menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”
Mencium Hajar Aswad bukanlah sebuah keharusan apalagi mengagungkan batu mulia dan cincin batu yang membuat demam masyarakat saat ini. Fatwa ulama organisasi Islam menjelaskan menyakini, memercayai benda-benda yang memiliki kekuatan, berkhasiat, apalagi membawa keberuntungan termasuk perbuatan syirik dan dosa besar. Sangat tegas, itu dilarang dalam Islam.
Janganlah benda yang diagung-agungkan itu merusak akidah. Dalam kehidupan manusia, jika ingin sukses, perlu usaha, ikhtiar, berserah diri alias tawakal, lalu berdoa. Insya Allah berhasil, tak perlu dengan kekuatan cincin batu. ***


