“UTHLUBUL Ilma Walau Bishin” (Carilah Ilmu sampai ke Negeri China). Hadis Nabi Muhammad saw. yang derajatnya dinilai lemah, akan tetapi sangat dalam arti dan maknanya. Dalam literatur, banyak hal yang perlu dipelajari dari Negeri Tirai Bambu.
Masih kuingat, guru SMA-ku pernah berkata, Tiongkok itu hanya kiasan untuk mengingatkan kita, mendorong, dan memotivasi agar menuntut ilmu sangat penting walau sampai ke negeri nan jauh. Tapi Tiongkok memang sangat unggul dalam peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi.
Antara Eropa dan Tiongkok, ternyata Tiongkok lebih dahulu melakukan proses pembentukan besi, terbukti dari uang koin yang dibuat pada 200 SM (Sebelum Masehi). Eropa sendiri baru melakukannya pada 1800 M. Informasi tentang kemajuan Tiongkok tidak terkuak karena memang Tiongkok sangat tertutup bagi dunia luar.
Di bidang kemaritiman, Tiongkok pun menguasai lautan mulai dari Afrika hingga Asia. Adalah kapal besar milik Laksamana Cheng Ho sudah berkeliling dunia sekitar tahun 1500 M. Sementara Christopher Colombus yang melakukan lawatan—menemukan Benua Amerika, mulai berlayar 80 tahun setelah Cheng Ho merajai lautan.
Di daratan, Tiongkok juga dengan bangga mempersembahkan sebuah bangunan—tembok panjangnya ribuan kilometer yang membentang di pegunungan Tiongkok. Tembok yang masih berdiri kokoh itu dibangun pada 100 SM.
***
Tiongkok sebagai wilayah yang memiliki peradaban sangat maju terkenal sampai ke jazirah Arab. Secara resmi ekspedisi Islam mulai merambah Tiongkok pada masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan, sekitar 12 tahun setelah Nabi saw. wafat (640 M).
Bangsa Tiongkok adalah bangsa yang terbuka. Dinasti Tang mengabadikan momen bersejarah terjadinya kontak antara dua kultur; Islam dan Tiongkok melalui bangunan bersejarah. Kaisar Yung Wei—berkuasa saat itu—memperlihatkan kekagumannya pada Islam, memerintahkan membangun tempat ibadah, masjid pertama di Tiongkok. Masjid itu berada di Kota Kanton yang didirikan sejak 14 abad lalu, kini masih berdiri dengan kokoh.
Dari sejarah sangat jelas bahwa masuknya Islam ke Tiongkok melalui jalur perdagangan. Tiongkok berpengalaman dalam dunia perdagangan. Hal itu dibuktikan dengan masa before christ (BC) sampai ke masa after dei (AD).
Dari zaman batu hingga ke perunggu. Mulai jalur sutera (silk route) hingga ke jalur laut (maritime route), bangsa Tiongkok selalu mengambil peran sentral dalam percaturan dunia. Di bidang perekonomian, kejayaan bangsa kulit kuning itu menjadi salah satu kekuatan besar dunia. Produk Tiongkok, kini sudah merambah seantero dunia dengan harga jual sangat murah.
Tiongkok mempunyai sejarah panjang akan tradisi keilmuan dan sastra yang luar biasa. Bahasa Mandarin adalah pemilik kosakata terbanyak di dunia, dan bahasa kedua yang sering dipakai umat manusia. Dari garis besar bangsa-bangsa di dunia, hanya Tiongkok dan bangsa timur lain, seperti Jepang dan Korea, yang belum pernah dikuasai oleh Islam.
***
Dari kemajuan bangsa-bangsa Asia Timur itu, Presiden Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur menghapus masa kelam yang menghinggapi Indonesia dengan menerbitkan peraturan yang cukup mencengangkan dunia. Kita ketahui, pada 1965, negeri ini diporak-porandakan ajaran komunis yang berasal dari Tiongkok.
Presiden melihat peradaban Tiongkok bagian terpenting kemajuan Indonesia. Kran itu dibuka Gus Dur dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 6/2000 pada 17 Januari 2000. Perpres ini mencabut Inpres No. 14/1967 bersifat diskriminatif bagi warga Tionghoa.
Dengan dicabutnya Inpres itu, terbuka lebar jalan bagi warga keturunan Tionghoa mengekspresikan perayaan agama dan kebudayaan di depan umum di Indonesia. Dua tahun kemudian, Presiden Megawati mengeluarkan Keppres No. 19 Tahun 2002 yang menetapkan Imlek, perayaan tahun baru Tiongkok, sebagai hari libur nasional.
Melihat ke belakang, di era Orde Baru, warga keturunan Tionghoa berada di kelas minoritas. Meski demikian, mayoritas dari mereka sangat berpengaruh di bidang perdagangan. Patut dicontoh, warga Tionghoa memiliki kemauan keras dan ulet, rajin, serta pantang menyerah, sehingga membuat mereka berada di posisi puncak untuk bidang perekonomian.
Dalam dunia politik dan pemerintahan pascareformasi, warga keturunan ini—menurut catatan Forum Demokrasi Kebangsaan, pada Pemilu 2009 caleg Tionghoa hanya 150 orang, dibanding pada 2014 mencapai 350 orang di seluruh Indonesia. Belum lagi yang menduduki sebagai kepala daerah, baik gubernur maupun bupati.
Dengan begitu, artinya proses pembauran terjadi tanpa kendala karena memang berlangsung sudah 16 tahun. Proses tersebut dibilang sangat positif, dan menjadi kekuatan masyarakat untuk bersama-sama membangun negeri ini, juga Lampung—Sai Bumi Ruwa Jurai.
Menjelang perayaan Imlek tahun ini, saya mengajak anak berjalan-jalan di salah satu mal di Bandar Lampung. Dia minta dibelikan kaus oblong berwarna merah dengan huruf kanji Tiongkok bertuliskan tahun kambing. Bagi dia, Imlek sama halnya dengan peringatan Tahun Baru Islam, juga Tahun Baru Masehi yang jatuh pada 1 Januari.
Patut disyukuri, kondisi Indonesia makin terbuka dan jauh lebih baik dibandingkan 20 tahun silam. Hidup berdampingan satu dengan yang lain, menumbuhkan harapan baru. Rasa saling menghargai merupakan penguatan dalam menatap masa depan bangsa. ***


