TIDAK ada yang tahu kapan bencana, musibah atau maut itu akan datang menjemput anak manusia. Semua datang tiba-tiba.
Bencana yang datang di negeri ini silih berganti. Mulai dari Lombok, disusul Palu. Dalam hitungan bulan, gempa dan tsunami meluluhlantakkan seisi kehidupan di kedua daerah tersebut. Sabtu (22/12) malam pekan lalu, gelombang tinggi–tsunami menyapu bersih pesisir pantai di Lampung Selatan dan Banten.
Fenomena alam pertama kali terjadi. Tanpa gempa atau peringatan dini di pantai yang banyak penghuni dan wisatawan. Ada yang terlelap tidur. Ada juga menghabiskan malam minggu menikmati musik.
Tsunami menyapu daratan dengan membawa material. Menghancurkan rumah. Ribuan warga panik menyelamatkan diri. Mencari tempat tinggi, harta pun ditinggalkan.
Mencekam memang malam itu. Tidak ada yang menyangka. Maut begitu cepat menjemput. Korban tembus di angka 500 orang. Hilang 100 jiwa.
Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghadang gelombang dahsyat. Panik! Semua lari tidak keruan mau ke mana? Harus menyelamatkan apa? Betapa lemahnya anak manusia hanya diterjang gelombang tinggi.
Kota Palu seperti itu juga. Gempa mengguncang menjelang magrib. Disusul tsunami. Bahkan, satu perkampungan disedot –masuk ke perut bumi.
Gempa Palu dan tsunami Selat Sunda, sebuah kejadian yang tidak bisa dijangkau akal sehat, termasuk teknologi buatan anak manusia.
Sehari setelah bencana tsunami Selat Sunda, sebuah video viral di media sosial. Video singkat itu menggambarkan betapa minimnya pengetahuan tentang akan datangnya tsunami. Sungguh menyedihkan.
Sedang jingkrak-jingkrak di atas panggung, tiba-tiba dari belakang tsunami datang. Tidak ada peringatan sedikit. Padahal pengetahuan tentang tsunami sudah banyak.
Bencana Aceh pada 14 tahun lalu. Yang masih anyar terjadi di Palu, pada tahun ini juga. Sepertinya rakyat masih bodoh dibuatnya. Tidak memiliki pengetahuan tentang tsunami.
Kawasan wisata ujung barat Jawa itu tidak ada petunjuk tentang bahaya bencana. Sementara sangat dekat dengan Gunung Anak Krakatau (GAK) yang siap memunculkan erupsi, tsunami.
Katanya ada sirene peringatan dini, ternyata tidak mampu berbuat apa-apa. Ingat! Sistem peringatan dini yang disebar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lebih memfokuskan pada peringatan dini dari gempa tektonik, bukan untuk erupsi sekelas GAK di tengah laut.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Suhendar mengatakan tsunami di selatan Sunda sebesar itu diakibatkan adanya runtuhan–erupsi GAK. Material yang dimuntahkan sangat besar.
Merontokkan bagian tubuh Krakatau menimbulkan energi besar. “Ini tidak terdeteksi seismograf di pos pengamat,” kata Rudi.
Sebenarnya GAK dan “ibunya”–Gunung Krakatau bukanlah sosok baru dalam urusan bencana di negeri ini. Krakatau pernah meletus dahsyat pada 26 Agustus 1883 selama 20 jam. Daya ledaknya 10.000 kali kekuatan bom atom di Hiroshima, Jepang.
Ledakannya menyisakan kaldera (cekungan) berukuran 4 x 8 km. Disusul tsunami dengan ketinggian lebih 15 meter. Wedus gembel saja dimuntahkan sejauh 40 km dari titik letusan.
***
Pengetahuan baru diperoleh dari seorang perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Widjo Kongko menyampaikan tentang potensi tsunami akibat erupsi GAK pada April 2018 lalu. Dalam diskusinya, dia mengungkapkan akan ada tsunami setinggi 57 meter di Pandeglang, Banten. Widjo tidak hanya sekadar asal bicara. Penelitiannya menghasilkan akan terjadi megathrust di Selat Sunda. (lampost.co).
Widjo menyatakan potensi tsunami akan selalu ada sepanjang erupsi GAK masih terus terjadi. “Kemungkinan longsor masih berlangsung. Mungkin saja ada eskalasi menjadi lebih tinggi. Tapi kita tidak tahu karena perilaku gunung. Artinya, jika terjadi kolaps berikutnya, bisa menimbulkan tsunami lagi, bahkan mungkin lebih besar,” kata dia. Longsor itu ke permukaan dasar laut, itulah yang menciptakan tsunami.
Bencana Krakatau, kata Widjo dalam wawancaranya dengan medcom.id (grup lampost.co), tidak ada pendeteksi, tidak ada alat, tidak ada apa pun. “Kita itu blank. Kita itu buta. Dua per tiga wilayah Indonesia adalah laut. Memang ada banyak kekayaan alam hayati di sana, tapi juga menyimpan banyak bencana,” kata Widjo yang pernah meneliti tentang A 1,000-year Sediment Record of Tsunami Recurrence in Northern Sumatra.
Bencana tinggal bencana. Anak bangsa tidak pernah belajar dari tsunami Aceh. Selain mitigasi bencana masuk kurikulum pendidikan, alat deteksi tsunami perlu dihadirkan. Mengapa? Sebab, negeri ini belum memiliki peringatan dini canggih yang memantau laut luas dan dalam.
Negeri ini hanya memiliki 22 alat deteksi dini tsunami yang sudah tidak terawat. Itu pun hasil hibah dari berbagai negara. Seperti alat deteksi di Pos Pemantau GAK saja sering rusak. Patut direnungkan, geografis Indonesia berada di tumbukan tiga lempeng utama dan di tengah cincin api Pasifik. Memang bumi nusantara sangat unik.
Jujur harus dikatakan. Apakah masih menunggu banyak korban berjatuhan lagi, baru dibangun sensor di laut. Ancaman bencana di bibir pantai, tidak hanya tsunami, abrasi, dan erupsi seperti GAK.
Tidak cukup tanggap darurat untuk mengobati rasa takut dan trauma. Akan tetapi, negara juga harus hadir lebih sigap lagi sebelum bencana itu menghadang.
Negeri kaya raya ini membutuhkan ketegasan kurikulum mitigasi bencana diajarkan di sekolah, dan melengkapi alat deteksi dini tsunami tercanggih di laut. Jika tidak peduli, siap-siap rakyat yang berdiam—menggantungkan hidupnya masih di bibir pantai menunggu maut menjemput. ***




