• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Cerdas Berliterasi

November 5, 2017
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

APA yang akan terjadi ketika anak-anak bangsa di negeri ini tidak memiliki kemampuan berbahasa; berbicara, menulis, dan membaca? Tentu negara kaya raya ini tidak akan merdeka. Namun, belakangan–di tengah guyuran informasi yang kian deras dan mudah diakses, masyarakat membutuhkan penguatan dan edukasi sehingga mampu bertahan pada era global.

Menjawab itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mencanangkan Gerakan Literasi Nasional pada puncak peringatan Bulan Bahasa dan Sastra pada Hari Sumpah Pemuda 2017 di Jakarta, Sabtu (28/10). Literasi sangat penting dan mendesak dikampanyekan sebagai gerakan sosial masyarakat. Literasi, kata Muhadjir, menjadi tolok ukur kemajuan bangsa dan akan mendapatkan perhatian dunia internasional.

Dalam laporan pembangunan dunia terbaru, Mendikbud menyebutkan kemampuan anak Indonesia untuk membaca masih tertinggal 45 tahun dibandingkan negara maju. “Jangan sampai kita merasa menjadi bangsa yang rendah. Kita bangsa yang besar. Bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang,” kata Menteri. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, dari jumlah penduduknya, luas wilayah, juga sumber daya alam.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Potensi yang besar itu menjadi kendaraan gerakan literasi mencapai negara yang maju. Yang jelas, tinggi-rendahnya literasi suatu bangsa itu sangat berpengaruh pada kemajuan bangsa. Dengan derasnya arus global–berpengaruh sangat dahsyat, menuntut semua elemen bangsa membekali diri dengan kecerdasan berliterasi.

Dengan kecerdasan itu, anak bangsa mampu bersaing dalam kehidupan global. Apalagi literasi di bidang media diharapkan mampu sebagai penyaring di tengah derasnya informasi yang masif dan terstruktur. Gerakan literasi itu untuk mendorong kesadaran anak bangsa memahami, menggunakan, dan menilai media secara benar dan tepat.

Sebenarnya, apa itu literasi? Literasi berasal dari bahasa Inggris yakni literacy atau dari bahasa Latin yakni littera (huruf). Pengertian literasi menurut ahli, Sulzby (1986), adalah kemampuan berbahasa seseorang (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda sesuai tujuannya.

Penguatan literasi media untuk mengedukasi masyarakat agar mampu memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pemberitaan dan tayangan media arus utama. Hal ini sangat penting agar rakyat tidak menerima secara bulat berita yang disampaikan media apalagi dalam bentuk digital. Tidak ada kata terlambat dalam mengedukasi–meningkatkan kapasitas dan kapabilitas anak bangsa.

Dengan begitu, masyarakat lebih santun, arif, dan bijaksana, bisa menahan diri, serta selektif dalam memilih dan memilah berita. Perlu dipahami, rendahnya tingkat literasi–membuat gelombang hoaks (berita bohong) kian meningkat.

Penelitian The World’s Most Literate Nations (WMLN) tentang tingkat literasi dunia 2016 menempatkan Indonesia pada urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia berada satu tingkat di atas Botswana, negara kecil di Benua Afrika yang berpenduduk 2,1 juta jiwa.

***

Darurat literasi digital! Mengapa? Karena jumlah pengguna internet di negeri ini meningkat sangat signifikan. Dan pengamat internet menilai, pengakses media sosial dijangkiti gejala split personality–berkepribadian ganda. Kelompok ini memanfaatkan media sosial untuk mengatualisasikan dirinya. Ini meresahkan bahkan menjadi corong kepentingan bagi lahirnya pandangan-pandangan yang menyesatkan masyarakat.

Patut direnungkan pula, rilis yang diterbitkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada April 2016 menyebutkan jumlah pengguna internet di negara ini mencapai 132 juta jiwa dari total populasi sebanyak 256,9 juta jiwa. Artinya, 51,8% penduduk mengakses internet.

Bahkan dari 132 juta tersebut, tercatat ada 129,2 juta jiwa menggunakan internet untuk bermedia sosial. Artinya, ada 97,4% penduduk Indonesia yang bermedia sosial. Sebuah angka yang sangat besar. Jika tidak diarahkan ke arah positif, anak-anak bangsa ini menjadi bumerang bagi masa depan Negara Indonesia. Mereka pun tak lagi menjaga kesantunan.

Jika itu dalam bentuk situs berita–mereka mengabaikan kaidah jurnalistik, melanggar kode etik, tanpa verifikasi. Rakyat harus dididik menjadikan tabayun sebagai metode dalam memverifikasi sebuah berita. Dalam mengembalikan kepercayaan publik kepada media arus utama itu, Dewan Pers menerapkan standar kompetensi wartawan dan pemberian barcode kepada media-media yang sudah terverifikasi.

Verifikasi perusahaan pers sangatlah diperlukan. Mengapa? Karena pers juga pilar literasi. Dewan Pers mendorong penguatan media-media arus utama dalam memasuki era konvergensi. “Ke depannya, hanya perusahaan pers yang sudah diverifikasi mendapatkan perlindungan dari Dewan Pers jika terjadi sengketa pers,” kata Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo di sela-sela pengumuman 74 perusahaan pers yang terverifikasi pada Pebruari 2017 lalu.

Pekan ini, Dewan Pers kembali mengumumkan perusahaan pers yang terverifikasi pada acara Penganugerahan Indonesia Media Research Award & Summit (IMRAS) 2017 di Surabaya, Rabu (1/11). Media terverifikasi itu diberikan barcode kode QR. Tujuannya, memudahkan publik mengetahui apakah situs berita atau media tadi telah terverifikasi di Dewan Pers atau belum. Inilah salah satu bentuk dan upaya penguatan media arus utama dalam berliterasi untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Berani Berikrar

Next Post

Teluk (Tong) Sampah

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Teluk (Tong) Sampah

Lilin Kecil

Wakil Tuhan

Lilin Kecil

Tiang Listrik

Lilin Kecil

Pesan Solo-Medan

Lilin Kecil

Elite Zaman Now

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist