• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Guru Sukma Bangsa

Oktober 4, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

AKU tidak akan hadir saat ini jika aku tak mengenal huruf dan angka yang diajarkan guru sekolah dasarku pada puluhan tahun silam. Sama halnya Pak Jokowi, Pak SBY, Ibu Mega, Gus Dur, Habibie, Pak Harto, dan Bung Karno, tak akan menjadi orang nomor satu di negeri ini jika tidak bisa membaca dan berhitung.
Banyak orang melupakan siapa pertama kali mengenalkan huruf dan angka? Mulai merangkainya menjadi kata lalu kalimat. Termasuk belajar berhitung dari angka 1 hingga 10. Dengan penambahan, kurang, mengali, dan membagi. Pasti jawabnya, guru di sekolah dasar.
Tak banyak anak bangsa mengingat guru sekolah dasarnya. Yang ingat hanya guru di sekolah menengah atas (SMA). Mau buktinya? Banyak orang keranjingan menggelar temu alumni atau reuni semasa SMA dibanding SD. Bagaimana SD? Untuk reuni jenjang satu ini, sepi peminat dan tidak banyak yang berkesan. Jika direnungi betapa mulia guru SD ketimbang SMA.
Guru SD banyak menanamkan budi pekerti, membaca dan berhitung, mencintai orang tua dan guru, termasuk mengingat Tuhan, Sang Pencipta alam jagat raya ini. Sangat terpujilah guru SD. Kalaupun aku tidak bisa membaca, hafalan perkalian, atau menyanyi–jangan harap bisa pulang duluan sebelum bel berdentang, tanda jam sekolah sudah berakhir.
Tidak cukup itu, kemampuan guru SD terus ditingkatkan seiring kemajuan teknologi. Kalau dulu cukup tamatan sekolah pendidikan guru (SPG) untuk mengajar di SD, kini ditingkatkan lagi harus lulusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD). Belum lagi kemampuan untuk ‘Oemar Bakri’ yang mengajar SMP dan SMA. Tuntutan itu juga mengubah lembaga pendidikan penyedia guru dari Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Tidak itu saja. Negeri ini mengucurkan dana ratusan triliunan rupiah setiap tahun untuk meningkatkan mutu guru. Sekarang muncul program sertifikasi guru. Bagaimana hasilnya, berdampakkah bagi siswa? Patut dievaluasi mutu pendidikan di negeriku ini!
***
Peringkat Indonesia dalam Indeks Pengembangan Manusia—Human Development Index (HDI) pada 2011 dari peringkat ke-111 dari 182 negara ke peringkat 124 dari 187 negara. Lalu pada 2013 dan 2012, peringkat Indonesia jalan di tempat, yakni pada posisi 108. Peringkat dan nilai HDI negeri ini masih di bawah rata-rata dunia, dan di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand.
Tiongkok pada 1990 masih di bawah Indonesia. Negeri Tirai Bambu itu mulai menyusul negeriku pada 2005. Dulu, banyak warga negara jiran belajar ke sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Kini anak bangsa negeri ini belajar ke negeri jiran—mengambil gelar doktor, termasuk berobat pun ke Malaysia.
Untaian lagu; Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan Guru Oemar Bakri, hanya sebatas di mulut, tanpa disadari oleh anak bangsa di negeri ini. Betapa mulianya. Negara ini maju kalau pendidikannya maju. Provinsi ini maju kalau pendidikannya maju. Kota ini maju kalau pendidikannya maju. Program Indonesia Mengajar, Lampung Mengajar adalah upaya bangsa ini mencerdaskan kehidupan rakyat di negeri ini.
Dari HDI tadi, posisi Indonesia selama dua tahun sempat melorot, dan dua tahun sempat jalan di tempat. Itu pertanda dunia pendidikan mengkhawatirkan jika dihitung uang rakyat yang terkuras ratusan triliunan rupiah per tahun untuk sertifikasi guru. Seorang pendidik sangat diharapkan berpengaruh pada mutu pendidikan. Karena peran guru adalah mengajarkan berbagai pengetahuan kepada siswa. Guru juga harus mampu mengembangkan potensi dan kepribadian siswa.
Dengan dana sertifikasi, guru mampu meningkatkan kinerja sehingga peningkatan mutu pendidikan berjalan ke arah yang lebih baik lagi. Sepertinya, sertifikasi baru mampu meningkatkan kesejahteraan dan semangat mengajar di depan kelas. Sertifikasi guru belum mampu meningkatkan kompetensinya dalam mengembangkan potensi dan kepribadian anak didik.
***
Bulan kemarin, bangsa ini tak cukup mengangkat guru honorer menjadi pegawai negeri sipil (PNS) karena didemo. Tapi perlu memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas guru sehingga mampu bersaing dengan dunia luar. Adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengapreasiasi Sekolah Sukma Bangsa yang diperuntukkan anak-anak korban tsunami Aceh 10 tahun lalu. Sebanyak 30 guru Sekolah Yayasan Sukma memperdalam ilmu pendidikan untuk jenjang strata dua di Finland University.
Proses pengajaran di Sukma Bangsa tak kalah hebat dengan sekolah yang ada di kota. “Berkunjung ke sana adalah pengalaman paling menyentuh. Pengalaman mengunjungi proses pendidikan di kampung tapi dengan standar enggak kampungan,” kata Anies pada acara penandatanganan nota kesepakatan antara Sekolah Sukma Bangsa dan Finland University di Gedung Metro TV, Jakarta, Jumat (3/10).
Menurut mantan Rektor Paramadina itu, membentuk dan menghasilkan orang luar biasa diperlukan pengajar yang luar biasa juga. “Guru adalah kunci membentuk manusia hebat seperti yang ada di sini. Kami berharap Sukma Bangsa suatu hari, mempunyai generasi baru melalui guru berkompeten untuk membuat siswa menyukai belajar, dan pembelajaran membentuk orang besar.”
Untuk sekian tahun, Sekolah Sukma Bangsa melakukan kontribusi yang luar biasa dalam bidang pendidikan untuk anak korban tsunami Aceh. Bagi Anies, aset berharga dari Aceh bukanlah hasil hutan maupun produksi minyak atau air tanahnya, melainkan rakyat yang cerdas.
Guru Sukma Bangsa mulai belajar Oktober 2015 hingga Desember 2017 itu akan mendapatkan pengetahuan pedagogical skill, bahasa, metodologi riset dan learning experience di luar kegiatan perkuliahan. Setelah pendidikan magister selesai, guru anak Aceh—Sukma Bangsa diwisuda di Tempere University. Inilah karya negeriku untuk anak bangsa.
Pasti Anda bertanya. Mengapa guru Sukma Bangsa dari Tanah Rencong itu berkiblat ke Finlandia? Karena Finlandia mempunyai mutu pendidikan terbaik di dunia. Negara itu tidak membangun pendidikan dengan dana melimpah seperti Indonesia. Keberhasilan Finlandia adalah mendidik anak-anak tidak bermental korup. ***

 

Share Postingan ini :
Previous Post

Tempat Suci Kritis

Next Post

Beduk Barnaby Joyce

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Beduk Barnaby Joyce

Lilin Kecil

Bobotoh Wong Kito

Lilin Kecil

Langit Terpanggang Asap

Lilin Kecil

Geleng-geleng Malam Hari

Lilin Kecil

Satu Jam Bersama Jokowi

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist